BERITAKULIAH.COM, Surabaya — Sejumlah mahasiswa UPN “Veteran” Jawa Timur menggelar kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk “Bijak Bermedsos, Hebat Beragama! Moderasi Beragama untuk Generasi Digital” di SDN Gunung Anyar Tambak, Kecamatan Gunung Anyar, Kota Surabaya, pada Kamis (4/6/2026). Kegiatan ini merupakan implementasi tugas Mata Kuliah Umum (MKU) Agama Islam yang bertujuan menanamkan nilai moderasi beragama sekaligus literasi digital kepada peserta didik sejak usia sekolah dasar.
Inisiatif ini lahir dari konteks yang relevan dengan kondisi keagamaan dan sosial saat ini. Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) telah menjadikan moderasi beragama sebagai program strategis nasional dengan visi membentuk masyarakat Indonesia yang toleran dan berimbang dalam kehidupan beragama. Namun, tantangan baru muncul seiring meningkatnya penggunaan gawai di kalangan anak-anak. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) secara konsisten menyoroti bahwa paparan konten bernada intoleransi dan ujaran kebencian di ruang digital kini juga menjangkau anak-anak usia sekolah dasar yang belum sepenuhnya memiliki kemampuan berpikir kritis untuk menyaring informasi yang mereka terima. Kondisi inilah yang mendorong mahasiswa untuk mengintervensi secara edukatif sedini mungkin langsung di lingkungan sekolah.
“Kegiatan ini merupakan bentuk komitmen kampus dalam memperkuat moderasi beragama yang inklusif, toleran, dan cinta damai. Moderasi berarti bersikap adil dan proporsional dalam beragama, bukan netral tanpa sikap,” tegas Dr. Fazlul Rahman, Lc., M.A.Hum., selaku dosen pengampu kelas G–749 Mata Kuliah Umum Agama Islam.
Kegiatan dilaksanakan dengan pendekatan yang ramah anak dan komunikatif. Penyampaian materi menggunakan presentasi visual bertema petualangan dengan desain animasi yang dirancang khusus agar menarik perhatian siswa sekolah dasar. Penyampaian materi tidak dilakukan secara satu arah, melainkan diselingi diskusi aktif sehingga para siswa dapat mengungkapkan pengalaman mereka sendiri seputar penggunaan gadget dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini lebih efektif dibanding ceramah konvensional khususnya untuk kelompok usia anak-anak.

Secara keseluruhan, materi pengabdian mencakup tiga pokok bahasan utama. Pertama, siswa diperkenalkan pada risiko nyata dari penggunaan gawai yang berlebihan, mencakup potensi lupa menjalankan kewajiban ibadah, penurunan kemampuan berkonsentrasi pada pelajaran, serta terbentuknya perilaku emosional negatif atau perilaku toxic dalam interaksi daring. Kedua, penyampaian konsep “Aturan Layar Emas Gadget” berupa pembatasan screen time maksimal dua jam per hari, sebagaimana direkomendasikan oleh para ahli kesehatan anak di tingkat internasional untuk menjaga kesehatan fisik, mental, dan kognitif anak usia sekolah. Ketiga, siswa mendapat pemahaman tentang pemanfaatan gawai secara produktif dan bernilai keagamaan seperti menyaksikan konten video edukatif, mendengarkan kisah-kisah para nabi, serta mempelajari doa dan akhlak melalui platform digital yang tersedia.
Sesi pengabdian ditutup dengan kuis interaktif yang disambut antusias oleh para siswa. Tingginya partisipasi peserta dalam menjawab setiap pertanyaan yang diajukan mencerminkan bahwa materi berhasil tersampaikan dengan cara yang mudah dicerna dan berkesan bagi anak-anak usia sekolah dasar. Hal ini sekaligus menjadi indikator awal bahwa pendekatan edukatif berbasis visual dan permainan efektif dalam menyampaikan pesan-pesan nilai keagamaan kepada kelompok usia muda.
Kegiatan pengabdian ini diharapkan dapat menjadi titik awal bagi terbentuknya kebiasaan penggunaan gawai yang bijak dan bertanggung jawab di kalangan siswa SDN Gunung Anyar Tambak. Penguatan nilai toleransi dan moderasi beragama yang dimulai sejak masa kanak-kanak diyakini akan menjadi fondasi yang kokoh bagi terbentuknya generasi bangsa yang tidak hanya cerdas secara digital tetapi juga berkarakter dan berakhlak mulia.














