Berita  

Mengapa Tidak Semua Mahasiswa Berprestasi Mudah Mendapatkan Pekerjaan?

Avatar photo
Mengapa Tidak Semua Mahasiswa Berprestasi Mudah Mendapatkan Pekerjaan?
Banyak lulusan baru masih menghadapi tantangan memperoleh pekerjaan meskipun memiliki prestasi akademik yang baik.

BERITAKULIAH.COM, Tangerang — Belakangan ini, media sosial sering dipenuhi cerita para fresh graduate yang kesulitan mendapatkan pekerjaan. Tidak sedikit dari mereka yang memiliki IPK tinggi, aktif dalam organisasi, mengikuti berbagai pelatihan, bahkan memiliki banyak sertifikat kompetensi. Namun, setelah mengirim puluhan hingga ratusan lamaran kerja, kesempatan untuk mendapatkan panggilan wawancara masih terasa sulit. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan yang menarik, mengapa tidak semua mahasiswa berprestasi mudah mendapatkan pekerjaan?

Sebagai mahasiswa, kami sering mendengar bahwa nilai yang baik dan prestasi akademik merupakan kunci utama untuk meraih kesuksesan setelah lulus. Karena itu, banyak mahasiswa berlomba-lomba memperoleh IPK tinggi, mengikuti seminar, dan mengumpulkan berbagai sertifikat pendukung. Akan tetapi, realitas di dunia kerja menunjukkan bahwa kemampuan akademik saja belum tentu cukup untuk menghadapi persaingan yang semakin ketat.

Menurut kami, salah satu penyebabnya adalah karena perusahaan tidak hanya melihat apa yang tertulis dalam transkrip nilai. Dunia kerja merupakan bagian dari sebuah organisasi yang melibatkan banyak individu dengan karakter, kepentingan, dan cara berpikir yang berbeda. Oleh karena itu, kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, membangun relasi, dan beradaptasi sering kali menjadi faktor yang sama pentingnya dengan kemampuan teknis.

Dari pengalaman mengikuti kegiatan organisasi selama kuliah, kami melihat bahwa mahasiswa yang aktif berorganisasi biasanya lebih terbiasa berbicara di depan umum, bekerja sama dalam tim, dan menghadapi berbagai situasi yang tidak selalu dapat diprediksi. Sebaliknya, ada juga mahasiswa yang sangat unggul secara akademik, tetapi masih merasa kesulitan ketika harus menyampaikan pendapat atau bekerja dalam kelompok. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa organisasi memberikan pembelajaran yang tidak selalu diperoleh melalui proses perkuliahan.

Fenomena ini dapat dijelaskan melalui konsep kekuasaan dalam organisasi yang dipelajari dalam mata kuliah Perilaku Organisasi. Menurut Wibowo (2014), kekuasaan merupakan kemampuan seseorang untuk memengaruhi perilaku orang lain agar bertindak sesuai dengan tujuan tertentu. Banyak orang menganggap bahwa kekuasaan hanya dimiliki oleh seseorang yang memiliki jabatan tinggi. Padahal, dalam organisasi, pengaruh juga dapat muncul dari keahlian, pengalaman, informasi, maupun kepercayaan yang diberikan oleh orang lain.

Mengapa Tidak Semua Mahasiswa Berprestasi Mudah Mendapatkan Pekerjaan?
Pengalaman organisasi membantu mahasiswa mengembangkan kemampuan komunikasi, kepemimpinan, dan kerja sama tim yang dibutuhkan di dunia kerja.

Kami pernah menemukan situasi dalam organisasi kampus ketika seorang anggota biasa justru lebih sering dimintai pendapat dibandingkan pengurus inti. Hal tersebut terjadi karena ia dianggap memiliki pengalaman dan mampu memberikan solusi ketika menghadapi masalah. Dari pengalaman tersebut, kami memahami bahwa pengaruh tidak selalu berasal dari jabatan, tetapi juga dari kemampuan dan kredibilitas yang dimiliki seseorang.

Selain konsep kekuasaan, materi Perilaku Organisasi juga membahas politik organisasi. Banyak orang menganggap politik sebagai sesuatu yang negatif karena identik dengan persaingan atau kepentingan pribadi. Namun, menurut Robbins (2003), politik organisasi juga dapat dipahami sebagai upaya individu atau kelompok untuk memengaruhi keputusan dan memperoleh dukungan dalam organisasi. Dalam praktiknya, kemampuan membangun hubungan yang baik dan memperoleh dukungan terhadap ide merupakan hal yang wajar dalam kehidupan organisasi.

Menurut kami, kemampuan seperti ini sering menjadi pembeda ketika seseorang memasuki dunia kerja. Perusahaan tidak hanya membutuhkan individu yang memiliki kemampuan teknis, tetapi juga individu yang mampu bekerja sama, berkomunikasi secara efektif, dan membangun hubungan profesional yang baik. Kemampuan tersebut membantu seseorang untuk beradaptasi dengan lingkungan kerja dan memberikan kontribusi yang lebih besar bagi organisasi.

Di era digital saat ini, bentuk pengaruh juga berkembang melalui media sosial. Banyak mahasiswa membangun personal branding dengan menampilkan berbagai pencapaian, pengalaman organisasi, maupun sertifikat yang dimiliki. Fenomena ini menunjukkan bahwa reputasi dan citra profesional semakin diperhatikan dalam dunia kerja. Namun, menurut kami, personal branding yang baik harus didukung oleh kemampuan yang nyata. Sertifikat dan pencapaian akan lebih bermakna apabila diikuti dengan kompetensi yang benar-benar dapat diterapkan dalam pekerjaan.

Selain itu, perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) juga membuat persaingan kerja semakin kompetitif. Banyak keterampilan teknis yang kini dapat dipelajari secara mandiri melalui berbagai platform digital. Akibatnya, perusahaan mulai mencari nilai tambah lain yang membedakan satu kandidat dengan kandidat lainnya. Kemampuan bekerja sama, berpikir kritis, berkomunikasi, dan membangun kepercayaan menjadi keterampilan yang semakin penting dalam lingkungan kerja modern.

Pada akhirnya, kami berpendapat bahwa prestasi akademik tetap memiliki peran yang penting karena menjadi dasar kemampuan seseorang. Namun, keberhasilan dalam memperoleh

pekerjaan tidak hanya ditentukan oleh nilai yang tinggi atau banyaknya sertifikat yang dimiliki. Mahasiswa juga perlu mengembangkan kemampuan interpersonal, pengalaman organisasi, serta kemampuan memahami dinamika kekuasaan dan politik organisasi. Oleh karena itu, persiapan menghadapi dunia kerja sebaiknya dilakukan secara seimbang, baik melalui pencapaian akademik maupun pengembangan keterampilan sosial. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya siap secara teori, tetapi juga siap menghadapi tantangan nyata dalam dunia kerja.

Daftar Pustaka

  • Robbins, S. P. (2003). Perilaku Organisasi. Jakarta: PT Prenallindo.
  • Wibowo. (2014). Perilaku Dalam Organisasi. Jakarta: Rajawali Pers.
Firman Setiawan

Penulis: Sofye Wahyuningsih, Abighael Bella Saskia, M. Raihan Kusumah, dan Muhammad Ramdhoni Pamungkas

Mahasiswa Program Studi Manajemen S1, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pamulang

Editor: Ardi Handayat, Tim BeritaKuliah.com