Pengaruh Penggunaan Artificial Intelligence (AI) terhadap Perkembangan Kognitif dan Perilaku Anak di Bawah Umur

Avatar photo
Pengaruh Penggunaan Artificial Intelligence (AI) terhadap Perkembangan Kognitif dan Perilaku Anak di Bawah Umur
Ilustrasi siluet kepala dengan tulisan 'AI' ini melambangkan bagaimana kecerdasan buatan mulai merasuk dan memengaruhi proses kognitif manusia sejak dini.

BERITAKULIAH.COM, Jakarta — Perkembangan pesat teknologi Artificial Intelligence (AI) telah mengubah lanskap kehidupan anak secara fundamental. Kemajuan AI generatif telah membawa perubahan revolusioner dalam dunia pendidikan yang secara mendalam memengaruhi perkembangan anak dan proses kognitif mereka. Teknologi ini, yang memanfaatkan algoritma canggih untuk menganalisis data dan menyesuaikan konten, tengah membentuk ulang cara anak-anak belajar dan berinteraksi dengan materi pendidikan.

Di sisi lain, pemahaman kita terhadap dampak AI pada perkembangan kognitif, emosional, dan perilaku anak masih sangat terbatas, padahal masa awal kehidupan merupakan periode yang amat krusial bagi pertumbuhan, keberhasilan, dan kesejahteraan seseorang. Oleh karena itu, kajian ilmiah yang komprehensif mengenai pengaruh AI terhadap perkembangan anak menjadi sangat mendesak.

1. Dampak Positif AI terhadap Perkembangan Kognitif

Otak anak memiliki neuroplastisitas—kemampuan untuk mereorganisasi koneksi sinaptik sebagai respons terhadap pengalaman belajar. Personalisasi berbasis AI mendorong pembentukan jalur saraf baru yang terkait dengan pengetahuan dan keterampilan spesifik. Secara konkret, penggunaan alat berbasis play-based learning yang didukung AI telah dikaitkan dengan perkembangan kognitif yang lebih baik melalui pemberian pengalaman belajar yang terindividualisasi. AI dapat mendukung akuisisi bahasa dan kreativitas melalui storytelling interaktif, permainan kosakata, pembuatan musik, dan latihan percakapan.

2. Risiko Kognitif: Beban Berlebih dan Ketergantungan

Sekalipun menawarkan manfaat, penggunaan AI yang berlebihan membawa risiko kognitif serius. Kekhawatiran mengenai ketergantungan berlebih pada teknologi dapat menyebabkan kelebihan beban kognitif (cognitive overload) dan defisit perhatian. Anak-anak masa kini dibanjiri informasi dari berbagai sumber, yang justru dapat menghambat pembelajaran mendalam. Kondisi ini mempertegas perlunya keseimbangan antara integrasi AI dan praktik pedagogis tradisional.

3. Dampak pada Perilaku Sosial

Anak-anak belajar etiket sosial melalui interaksi dengan orang lain yang menjadi teladan perilaku yang sesuai secara sosial. Namun AI tidak selalu mengikuti norma sosial atau mendorong penggunaan bahasa yang santun. Telah diamati adanya kasus di mana anak-anak memberi perintah kasar atau bahkan menghina AI, dan kekhawatirannya adalah perilaku ini akan terbawa ke interaksi nyata mereka dengan sesama manusia.

4. Risiko Perilaku dari Desain AI yang Persuasif

Desain persuasif AI—terutama kecenderungannya terhadap sycophancy—dapat secara halus memperkuat perilaku yang tidak sehat. Seorang anak yang pemalu, misalnya, mungkin terdorong untuk hanya berinteraksi dengan chatbot, semakin terisolasi secara sosial. Penegasan yang terus-menerus tanpa tantangan juga dapat menghambat perkembangan berpikir kritis dan ketahanan emosional.

5. Peran Orang Tua dan Literasi Digital

Orang tua dengan literasi digital yang kuat lebih mampu mengenali manfaat sekaligus potensi bahaya aktivitas berbasis AI. Kompetensi ini memungkinkan mereka untuk lebih terlibat dan memodelkan keterlibatan kritis serta menciptakan konteks digital yang lebih terinformasi bagi remaja mereka.

Kesimpulan

Penggunaan AI memberikan dampak ganda terhadap perkembangan kognitif dan perilaku anak. Di satu sisi, AI menawarkan personalisasi pembelajaran yang mendorong neuroplastisitas dan kreativitas. Di sisi lain, paparan berlebihan berpotensi menimbulkan cognitive overload, defisit perhatian, dan degradasi keterampilan sosial. Diperlukan regulasi berbasis bukti ilmiah, keterlibatan aktif orang tua, serta desain AI yang berpusat pada kepentingan terbaik anak (child-centered AI design) sebagai respons terhadap tantangan ini.

Referensi

  1. Luo, et al. (2024). Intelligent Tutoring Systems and Personalized Learning. dalam: AI, Brain and Child Journal. Springer Nature. https://doi.org/10.1007/s44436-025-00004-4
  2. Wu, D., Dong, X., Liu, D., et al. (2024). How early digital experience shapes young brains during 0–12 years: a scoping review. Early Education and Development, 35, 1395–1431. https://doi.org/10.1080/10409289.2023.2278117
  3. Xu, Y., He, K., Levine, J., et al. (2024). Artificial intelligence enhances children’s science learning from television shows. Journal of Educational Psychology, 116(7), 1071–1092. https://doi.org/10.1037/edu0000889
  4. Kanders, K., et al. (2024). Perspectives on the impact of generative AI on early-childhood development and education. Infant and Child Development, 33(4), e2514.
  5. Zhai, C., Wibowo, S., & Li, L.D. (2024). The effects of over-reliance on AI dialogue systems on students’ cognitive abilities: a systematic review. Smart Learning Environments, 11(1), 28. https://doi.org/10.1186/s40561-024-00316-7
  6. Muppalla, S.K., et al. (2023). Effects of excessive screen time on child development: an updated review and strategies for management. Cureus, 15(6), e40608. https://doi.org/10.7759/cureus.40608
  7. Su, J., & Yang, W. (2024). Artificial intelligence and robotics for young children: Redeveloping the five big ideas framework. ECNU Review of Education, 7(3), 685–698. https://doi.org/10.1177/20965311231218013
  8. UNICEF. (2024). How is artificial intelligence reshaping early childhood development? https://www.unicef.org/media/163786
  9. UNICEF Innocenti. (2025). Beyond algorithms: Three signals of changing AI-child interaction. https://www.unicef.org/innocenti/stories/beyond-algorithms

Penulis: Firman Setiawan
Mahasiswa Teknik Informatika di Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA

Editor: Bifanda Ariandhana, Tim BeritaKuliah.com