BERITAKULIAH.COM, Jakarta — Selama dua dekade terakhir, doktrin militer dunia terpaku pada keunggulan nirkabel. Satelit, frekuensi radio, dan navigasi satelit atau GNSS dianggap sebagai fondasi mutlak perang modern. Namun, realitas di medan tempur Ukraina (2024–2026) menunjukkan sebuah anomali: kembalinya kabel fisik. Di tengah gempuran teknologi pertahanan nirkabel yang canggih, militer justru mulai mengandalkan fiber optik sebagai “urat nadi” komunikasi drone mereka.
Kiamat Spektrum dan Kegagalan Presisi
Laporan strategis dari Jack Watling & Noah Sylvia (RUSI, 2025) menyoroti kerentanan fatal pada sistem persenjataan presisi akibat Peperangan Elektronik (Electronic Warfare). Data lapangan menunjukkan bahwa efektivitas amunisi dan drone yang bergantung pada sinyal nirkabel menurun drastis akibat teknik jamming (pengacakan sinyal) yang masif.
Dalam kondisi ini, fiber optik muncul sebagai solusi final. Berbeda dengan gelombang radio yang merambat di udara bebas dan mudah diinterupsi, fiber optik beroperasi pada Physical Layer (Lapisan Fisik) yang terisolasi. Karena data ditransmisikan dalam bentuk denyut cahaya di dalam inti kaca, sinyal ini sepenuhnya imun terhadap gangguan elektromagnetik. Drone yang dikendalikan lewat kabel tidak bisa di-jamming, tidak memancarkan tanda elektronik yang bisa dilacak, dan memberikan jaminan kendali 100% bagi operatornya.

IoBT: Membangun “Backbone” di Garis Depan
Modernisasi pertempuran kini mengadopsi konsep Internet of Battlefield Things (IoBT). Menurut penelitian Papakostas et al. (IEEE, 2021), efektivitas unit tempur seperti drone tidak lagi ditentukan oleh kapasitas serangnya secara mandiri, melainkan oleh kemampuannya terhubung dalam jaringan multilayer.
Drone membutuhkan transmisi data visual beresolusi tinggi (4K/8K) tanpa latensi (zero latency) untuk proses identifikasi target berbasis AI. Di zona perang yang penuh gangguan spektrum, jaringan nirkabel sering kali mengalami gagal koneksi. Dengan menggunakan koneksi fiber optik, “tulang punggung” (backbone) komunikasi tetap stabil. Hal ini memungkinkan aliran data masif mengalir tanpa jeda, seolah-olah medan pertempuran adalah sebuah pusat data terintegrasi yang terhubung secara fisik.
Inovasi Material: Ringan namun Tangguh
Implementasi kabel pada drone tempur modern (FOG-D) melibatkan perhitungan teknis yang presisi antara beban (payload) dan kekuatan tarik (tensile strength). Kabel yang digunakan di palagan Ukraina bukanlah kabel standar, melainkan serat optik ultra-tipis yang diperkuat dengan material Kevlar-reinforced.
Inovasi ini memungkinkan kabel sepanjang 10 hingga 20 kilometer hanya berbobot sekitar 1–2 kilogram, cukup ringan untuk dibawa oleh drone FPV (First Person View) tanpa mengorbankan mobilitas. Saat drone bermanuver tajam untuk menghindari rintangan, kabel tersebut terurai secara mulus dari gulungan khusus, memastikan koneksi tetap terjaga hingga detik terakhir benturan.

Sisi Gelap di Balik Kabel: Residu Ekosistem dan Tantangan Lingkungan
Meskipun menawarkan solusi taktis yang brilian, penggunaan drone berbasis fiber optik (FOG-D) menyisakan persoalan baru: sampah infrastruktur di medan perang. Tidak seperti gelombang radio yang lenyap saat perangkat dimatikan, setiap penerbangan drone ini meninggalkan jejak fisik berupa ribuan meter serat optik yang terurai di atas tanah, pepohonan, hingga sumber air.
Serat optik modern memang sangat tipis, namun material pelindungnya—seperti polimer atau Kevlar—membutuhkan waktu yang sangat lama untuk terurai secara alami. Di wilayah konflik seperti Ukraina, akumulasi “jaring laba-laba kaca” ini berpotensi menjadi polutan plastik baru yang mengganggu ekosistem lokal.
Satwa liar dapat terjerat oleh residu kabel yang sangat kuat tersebut, dan pecahan serat kaca mikroskopis yang terkubur di dalam tanah berisiko mencemari lahan pertanian dalam jangka panjang. Tantangan bagi industri pertahanan ke depan bukan lagi sekadar soal jangkauan kabel, melainkan pengembangan material serat yang bersifat biodegradable atau mudah terurai tanpa mengurangi kualitas transmisi data.

Kesimpulan: Keamanan dalam Kepastian Fisik
Fenomena “menarik kabel” di medan tempur Ukraina membuktikan bahwa dalam teknologi militer, jalur yang paling andal adalah jalur fisik. Di era di mana spektrum nirkabel menjadi medan pertempuran yang penuh gangguan, fiber optik menawarkan kepastian yang tidak bisa diberikan oleh frekuensi radio.
Evolusi ini merupakan adaptasi cerdas terhadap kerentanan dunia digital, namun sekaligus menjadi peringatan bahwa setiap inovasi teknologi militer selalu membawa konsekuensi terhadap alam. Pada akhirnya, kemajuan militer masa depan dituntut untuk tidak hanya memenangkan pertempuran di udara, tetapi juga tetap menjaga kelestarian bumi di bawahnya.
Daftar Pustaka
- Baudcom. (2024). Why Fiber Optics Can’t Be Jammed and What Ukraine’s Drone War Teaches Us. Baudcom Blog. https://www.baudcom.com.cn/blog/why-fiber-optics-cant-be-jammed-and-what-ukraines-drone-war-teaches-us
- Papakostas, D., Kasidakis, T., Fragkou, E., & Katsaros, D. (2021). Backbones for Internet of Battlefield Things. Proceedings of the 16th Annual Conference on Wireless On-demand Network Systems and Services (WONS), 1–8. https://doi.org/10.23919/WONS51326.2021.9415538
- Spotter Global. (2024). New Stealth Fiber-Optic Guided Drones (FOG-D): How to Detect Them. Spotter Global Blog. https://www.spotterglobal.com/blog/spotter-blog-3/new-stealth-fiber-optic-guided-drones-fog-d-how-to-detect-them-12
- Tan, H., & Kurniawan, A. (2024). Analisis Weight dan Tensile Strength pada Wired Drone dalam Operasi Taktis. Jurnal Teknologi Informatika dan Jaringan, 9(2), 145-158.
- VGI Ukraine. (2026). From Quantity to Algorithms: How FPV Warfare is Changing in 2026. VGI Official Defense Analysis. https://vgi.com.ua/en/from-quantity-to-algorithms-how-fpv-warfare-is-changing-in-2026/
- Watling, J., & Sylvia, N. (2025). Competitive Electronic Warfare in Modern Land Operations. Royal United Services Institute (RUSI) Occasional Paper. https://www.rusi.org/explore-our-research/publications/occasional-papers/competitive-electronic-warfare-modern-land-operations
Penulis: Muhammad Purwandy (NIM 2503015019)
Mahasiswa Teknik Informatika, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka
Dosen Pengampu: Rifky, S.T., M.M.













