Berita  

Pendidikan Indonesia dalam Bayang-bayang Krisis Literasi dan Karakter

Avatar photo
Pendidikan Indonesia dalam Bayang-bayang Krisis Literasi dan Karakter
Ilustrasi tantangan pendidikan Indonesia dalam penguatan budaya literasi dan pembentukan karakter peserta didik.

BERITAKULIAH.COM, Padang — Kemajuan suatu bangsa di era global bukan lagi ditentukan oleh seberapa luas wilayahnya atau seberapa kaya sumber dayanya. Yang jauh lebih menentukan adalah kualitas manusianya seberapa tajam cara berpikirnya, seberapa kuat nilai-nilai yang dipegangnya. Dan dua hal itu hanya bisa tumbuh bersama melalui satu jalur: literasi yang kuat berpadu dengan pendidikan karakter yang nyata. Sayangnya, Indonesia masih berjuang keras di kedua front tersebut.

Data PISA menempatkan Indonesia di urutan ke-62 dari 70 negara dalam hal literasi membaca. Bukan sekadar soal malas membaca ini bicara tentang ketidakmampuan mencerna informasi secara mendalam, memverifikasi fakta sebelum menyebarkannya, dan berpikir kritis sebelum mengambil kesimpulan. Kondisi ini diperparah oleh derasnya arus media sosial. Dengan 167 juta pengguna aktif pada 2023, platform seperti TikTok, Instagram, dan X telah menggeser kebiasaan membaca panjang menjadi konsumsi konten kilat. Informasi singkat dan instan dianggap sudah cukup. Akibatnya, kemampuan berkonsentrasi menurun, daya analisis melemah, dan masyarakat semakin mudah terseret oleh hoaks yang lebih mengandalkan emosi ketimbang logika.

Literasi sejati bukan sekadar bisa membaca. Ia adalah kemampuan mencari sumber terpercaya, menimbang bukti, dan bersikap objektif di tengah banjir informasi. Tanpa itu, satu unggahan yang tidak pernah dicek bisa meruntuhkan reputasi seseorang, memecah komunitas, bahkan memantik konflik sosial yang sesungguhnya bisa dihindari. Di sisi lain, arus digital juga menggerus karakter generasi muda secara perlahan tapi pasti. Disiplin melemah, tanggung jawab terkikis, etika pergaulan merosot. Bullying dan cyberbullying makin marak korbannya kehilangan kepercayaan diri, mengalami gangguan mental, bahkan prestasi akademik yang anjlok. Intoleransi tumbuh subur di kolom komentar, sementara ujaran kebencian menyebar viral jauh lebih cepat daripada klarifikasi. Kemajuan teknologi, ternyata, tidak otomatis menghasilkan kemajuan moral.

Ada tiga akar masalah yang kerap diabaikan. Pertama, keluarga sebagai sekolah pertama karakter. Ketika orang tua absen baik secara fisik maupun emosional anak kehilangan teladan paling mendasar. Pola asuh yang terlalu longgar atau terlalu kaku sama-sama berpotensi melahirkan generasi yang rapuh secara moral.

Kedua, sekolah yang seharusnya menjadi benteng justru sering gagal. Pendidikan karakter yang setengah hati, minimnya keteladanan guru, dan lemahnya penanganan kasus perundungan membuat nilai-nilai moral hanya berhenti di atas kertas tidak pernah benar-benar meresap ke dalam perilaku.

Ketiga, pergaulan dan media sosial melengkapi gambaran yang sudah buram ini. Teman sebaya punya daya pengaruh luar biasa bagi remaja. Ditambah banjir konten digital tanpa filter moral, tidak mengherankan jika banyak anak muda terjerumus ke perilaku menyimpang tanpa menyadari konsekuensinya.

Globalisasi dan inovasi teknologi adalah kereta cepat yang tidak bisa dihentikan. Indonesia hanya punya satu tiket untuk tetap relevan: kualitas sumber daya manusia. Bukan sekadar yang pintar dan terampil, melainkan yang berkarakter kuat dan adaptif. SDM kreatif akan mengangkat posisi Indonesia di panggung dunia, bukan sekadar pengekspor bahan mentah. Teknologi yang dikuasai dengan benar membuka pintu wirausaha dan ekonomi digital tanpa batas negara. Globalisasi memungkinkan talenta Indonesia bersaing di pasar kerja internasional. Namun semua itu hanya bisa diraih jika sistem pendidikan kita berhenti mencetak penghafal teori dan mulai melahirkan lulusan yang kompeten sekaligus berintegritas.

Tiga Langkah yang Tidak Bisa Ditunda

Pertama, hidupkan kembali budaya membaca. Di sekolah, pembiasaan membaca 10–15 menit sebelum pembelajaran adalah langkah kecil yang berdampak besar. Di rumah, orang tua memegang peran kunci yang tidak bisa digantikan oleh sekolah mana pun kebiasaan membaca bersama membangun fondasi karakter sejak dini.

Kedua, integrasikan pendidikan karakter secara nyata, bukan seremonial. Karakter tidak tumbuh dari ceramah ia terbentuk dari pembiasaan dan keteladanan sehari-hari. Kejujuran dalam ujian, tanggung jawab dalam tugas kelompok, empati dalam diskusi kelas inilah ruang-ruang kecil tempat karakter diasah. Kurikulum Merdeka sudah membuka peluang lebih luas untuk pendekatan ini, asalkan guru dibekali pelatihan yang aplikatif, bukan sekadar administratif.

Ketiga, jadikan teknologi sekutu, bukan musuh. Literasi digital yang terlatih terbukti meningkatkan kemampuan siswa mengenali hoaks hingga hampir 70%. Media pembelajaran interaktif melatih kerja sama dan pemecahan masalah secara kreatif. Media sosial pun bisa menjadi ruang etika digital yang positif jika penggunanya paham bahwa setiap unggahan membawa tanggung jawab sosial.

Krisis literasi dan karakter bukan takdir Indonesia. Keduanya adalah hasil dari pilihan pilihan sistem, pilihan institusi, dan pilihan setiap individu. Ketika kemampuan berpikir kritis bertemu dengan kesadaran moral yang kokoh, Indonesia tidak hanya akan mampu bersaing di panggung global, tetapi juga tampil dengan martabat dan jati diri yang utuh. Di tengah ancaman otomatisasi dan kecerdasan buatan yang siap menggantikan pekerjaan-pekerjaan rutin, kepintaran otak saja tidak lagi cukup. Kepintaran tanpa kecerdasan hati hanya akan melahirkan kemajuan yang rapuh.Pertanyaannya bukan lagi bisa atau tidak melainkan mau atau tidak.

Referensi

  • Amalia, A., Ramadhani, A. L., Vitacheria, F. G., & Azizah, I. (2024). Pendidikan karakter dan teknologi: Pengaruh penggunaan media sosial terhadap pembentukan karakter remaja. Jurnal Ilmu Pendidikan dan Pembelajaran, 3(1), 32–39.
  • Handayani, L., Aisyahrani, A. I. B., & Sugiyana, L. U. T. (2025). Membangun komunitas bebas perundungan melalui edukasi karakter berbasis keluarga dan sekolah. Jurnal PKM Merah Putih, 1(2), 1–8.
  • Hidayat, F. N. A., Nasution, N. H., & Yahya, A. H. (2021). Pengaruh media sosial terhadap minat baca Generasi Z. Tabayyun, 2(1), 27–33.
  • Kasanah, U. F. (2025). Membaca untuk bangsa: Literasi sebagai alat memperkokoh persatuan. Literasiana, 3(1), 12–25.
  • Lisnawita, Guntoro, Johar, O. A., & Costaner, L. (2024). Improving digital literacy to prevent the spread of hoax news. Dinamisia: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 8(1), 298–303.
  • Nariswari, N. R. (2024). Pengaruh sosial media terhadap kemampuan berpikir kritis dan daya fokus masyarakat Indonesia. Jurnal Vicidi, 14(2), 134–144.
  • Parisu, C. Z. L., Saputra, E. E., & Lasisi, L. (2025). Integrasi literasi sains dan pendidikan karakter dalam pembelajaran IPA di sekolah dasar. Journal of Human and Education (JAHE), 5(1), 864–872.
  • Putri, A. T. Y. (2024). Pentingnya pendidikan karakter dalam membangun generasi berintegritas di era globalisasi. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan (JUPENDIR), 2(3), 45–56.
  • Putri, F. A., Dewi, D. A., & Hayat, R. S. (2023). Budaya literasi sebagai upaya pembentukan pendidikan karakter. Jurnal Multidisiplin Indonesia, 1(3), 157–165.
  • Ridha, A. R., Bahij, M. A., Nurachman, A., & Setiawan, R. (2025). Integrasi pendidikan karakter dalam kurikulum berbasis nilai afektif dan psikomotorik. Jurnal Riset Sosial Humaniora dan Pendidikan, 3(1), 245–254.
  • Ridwani, R. R., Khaerunisa, A., Marhadi, A., Raya, C. S., Piliyanto, E. A., Lestari, S. I., Jumawan, & Hadita. (2023). Pengaruh perilaku sumber daya manusia dalam kehidupan organisasi bisnis di era global. Jurnal Mahasiswa Kreatif, 1(4), 65–77.
  • Sinta, L., Matheos, Y., Malaikosa, L., & Supriyanto, D. H. (2022). Implementasi penguatan pendidikan karakter pada siswa kelas rendah di sekolah dasar. Jurnal Kependidikan, 6(4), 3193–3202.
  • Situmorang, K. J., Tambunan, W. N., & Sundari, S. (2024). Tantangan sumber daya manusia di era globalisasi. Jurnal Cakrawala Akademika, 1(3), 894–904.
  • Sunarya, R. F., & Ansori, Y. Z. (2025). Integrasi literasi digital dalam implementasi Kurikulum Merdeka di sekolah dasar. Didaktik: Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang, 12(1), 124–132.

Profil Penulis

  1. Afifah Ramadhini
  2. Frendy Nasril
  3. Imam Abyan
  4. Putri Natasya Addiva
  5. Rahul Hidayat
  6. Zaskia Mahendra

Mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Editor: Ardi Handayat, Tim BeritaKuliah.com