Berita  

Mahasiswa FEB UB Teliti Praktik Toleransi dalam Keberagaman Budaya, Suku, dan Agama di Malang

Avatar photo
Mahasiswa FEB UB Teliti Praktik Toleransi dalam Keberagaman Budaya, Suku, dan Agama di Malang

BERITAKULIAH.COM, Malang – Sekelompok mahasiswa Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB) melakukan proyek lapangan untuk mengkaji persoalan kemajemukan budaya, suku, dan agama di masyarakat. Kegiatan yang dilaksanakan di wilayah Malang pada tahun 2025 ini bertujuan untuk memahami bagaimana masyarakat memaknai keberagaman serta menerapkan nilai toleransi dalam kehidupan sehari-hari.

Penelitian dilakukan melalui metode wawancara langsung terhadap empat narasumber yang berasal dari latar belakang berbeda, yaitu pelajar, mahasiswa perantau, dan pekerja di lingkungan perumahan. Pemilihan narasumber yang beragam dilakukan agar diperoleh gambaran yang lebih luas mengenai kondisi sosial masyarakat yang hidup dalam keberagaman.

Hasil wawancara menunjukkan bahwa masyarakat memiliki pemahaman yang cukup baik mengenai keberagaman. Sebagian besar narasumber memaknai keberagaman sebagai kondisi hidup berdampingan dengan individu yang memiliki perbedaan agama, suku, budaya, maupun kebiasaan. Selain dianggap sebagai realitas sosial yang wajar, keberagaman juga dipandang membutuhkan sikap toleransi agar hubungan antarmasyarakat tetap harmonis.

Dalam kehidupan sehari-hari, interaksi antarindividu dengan latar belakang yang berbeda berlangsung secara intens, baik di lingkungan tempat tinggal maupun lingkungan pendidikan. Para narasumber mengaku sering berinteraksi dengan orang yang memiliki keyakinan, budaya, dan kebiasaan yang berbeda. Bahkan, perbedaan tersebut dinilai mampu mempererat hubungan sosial melalui pertukaran pengalaman dan budaya.

Mahasiswa FEB UB Teliti Praktik Toleransi dalam Keberagaman Budaya, Suku, dan Agama di Malang

Salah satu narasumber, Salsa, seorang pelajar SMA asal Bojonegoro, mengungkapkan bahwa dirinya tidak pernah mengalami konflik dengan teman-teman yang berbeda agama. Menurutnya, keberagaman justru memberikan dampak positif bagi lingkungan selama setiap individu mampu menjaga sikap saling menghormati.

Pandangan serupa juga disampaikan Nafisa, seorang perantau asal Palembang yang kini tinggal di Malang. Ia menilai interaksi dengan orang dari latar belakang berbeda dapat menambah wawasan, memperluas perspektif, serta membantu memahami budaya dan praktik keagamaan yang beragam. Meski demikian, Nafisa mengakui bahwa stereotip daerah dan perilaku rasis di media sosial masih menjadi tantangan yang perlu diatasi.

Sementara itu, dua narasumber lain yang bekerja sebagai petugas keamanan di lingkungan perumahan menyatakan bahwa kehidupan masyarakat di lingkungan mereka cenderung berjalan harmonis. Mereka mengaku sering menyaksikan bentuk-bentuk toleransi antarwarga, seperti saling berbagi makanan saat hari raya keagamaan dan membantu menyelesaikan kesalahpahaman melalui komunikasi langsung.

Meski kondisi sosial relatif kondusif, penelitian ini juga menemukan sejumlah tantangan dalam kehidupan masyarakat yang beragam. Beberapa di antaranya adalah munculnya prasangka, stereotip, perbedaan kebiasaan, perbedaan cara berkomunikasi, serta pengaruh negatif media sosial. Tantangan tersebut berpotensi memicu konflik apabila tidak disikapi dengan baik.

Di sisi lain, keberagaman dinilai memberikan berbagai manfaat bagi masyarakat, seperti memperluas relasi sosial, meningkatkan kemampuan beradaptasi, menambah pengetahuan budaya, serta menciptakan lingkungan yang lebih dinamis. Namun, potensi kesalahpahaman dan konflik tetap dapat muncul apabila komunikasi dan sikap saling menghargai tidak dijaga.

Berdasarkan hasil analisis, para peneliti menyimpulkan bahwa keberagaman bukanlah penyebab utama konflik dalam masyarakat. Faktor yang paling menentukan adalah cara individu menyikapi perbedaan tersebut. Interaksi yang intens, komunikasi yang terbuka, dan sikap saling menghormati terbukti mampu mengurangi prasangka serta memperkuat hubungan sosial.

Melalui penelitian ini, mahasiswa berharap masyarakat dapat terus menjaga nilai toleransi dan kerukunan dalam kehidupan sehari-hari. Generasi muda juga diharapkan berperan aktif sebagai teladan dalam menyebarkan nilai-nilai positif, baik di lingkungan sosial maupun melalui media digital, sehingga keberagaman dapat menjadi kekuatan yang mempersatukan masyarakat.

Firman Setiawan

Penulis: Sarah Azizah

Mahasiswa Prodi Manajemen, Universitas Brawijaya

Editor: Ardi Handayat, Tim BeritaKuliah.com