Supervisi Pendidikan Tidak Boleh Sekadar Formalitas: Refleksi Observasi di SMPIT

Avatar photo
WhatsApp-Image-2026-02-17-at-22.50.25
Foto bersama tim mahasiswa Universitas PTIQ Jakarta bersama Wakil kepala sekolah SMP IT RAHMANIYAH

Kualitas pendidikan sering kali hanya dikaitkan dengan kurikulum, fasilitas sekolah, atau kompetensi peserta didik. Padahal, ada satu aspek penting yang kerap luput dari perhatian publik, yaitu bagaimana guru dibina dan didampingi dalam menjalankan proses pembelajaran. Di sinilah supervisi pendidikan memainkan peran strategis.

Supervisi seharusnya tidak dimaknai sebagai aktivitas administratif atau sekadar kewajiban institusi pendidikan. Lebih dari itu, supervisi merupakan proses profesional yang bertujuan membantu guru berkembang, beradaptasi dengan perubahan, serta meningkatkan kualitas pembelajaran secara berkelanjutan

Berdasarkan hasil observasi yang Saya lakukan dalam kegiatan akademik di SMPIT Rahmaniyah Full Day School, terlihat bahwa praktik supervisi telah mengalami pergeseran makna dari yang dahulu identik dengan pengawasan menjadi lebih berorientasi pada pembinaan. Namun demikian, pertanyaan penting masih muncul: apakah supervisi benar-benar telah menjadi kebutuhan profesional, atau justru masih dipandang sebagai formalitas?

Menghapus Stigma Supervisi sebagai “Mencari Kesalahan

Selama bertahun-tahun, supervisi sering dipersepsikan sebagai momen menegangkan bagi guru. Kehadiran supervisor di kelas kerap dianggap sebagai upaya menemukan kekurangan, bukan memberikan dukungan.

Padahal, supervisi yang efektif justru menempatkan guru sebagai mitra profesional. Ketika dilakukan dengan pendekatan humanis dan dialogis, supervisi dapat menjadi ruang refleksi yang mendorong guru mengevaluasi praktik pembelajarannya sendiri.

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa supervisi yang diawali dengan diskusi pra-observasi, dilanjutkan dengan pengamatan kelas, serta diakhiri refleksi bersama mampu menciptakan suasana yang lebih konstruktif. Guru tidak hanya dinilai, tetapi juga diajak berpikir kritis mengenai strategi pembelajaran yang digunakan.

Pendekatan seperti ini penting, terutama di tengah tuntutan pendidikan abad ke-21 yang mengharuskan guru bersikap adaptif, kreatif, dan inovatif.

Antara Konsep Ideal dan Tantangan Nyata

Meski supervisi telah dirancang secara sistematis, realitas di lapangan menunjukkan masih adanya tantangan dalam implementasinya. Beberapa guru, misalnya, masih menghadapi kesulitan dalam mengelola kelas secara efektif atau menciptakan pembelajaran yang variatif.

Kondisi tersebut bukan semata-mata mencerminkan rendahnya kompetensi guru, tetapi juga menunjukkan bahwa pembinaan profesional harus dilakukan secara berkelanjutan.

Supervisi tidak boleh berhenti pada pemberian skor atau evaluasi sesaat. Tanpa tindak lanjut yang jelas seperti pelatihan, diskusi pedagogik, atau pendampingan supervisi berisiko kehilangan makna transformasionalnya.

Di sisi lain, kompetensi supervisor juga menjadi faktor krusial. Supervisor dituntut tidak hanya memahami teori pendidikan, tetapi juga mampu membangun komunikasi empatik. Supervisi yang terlalu kaku dan otoriter justru berpotensi menimbulkan resistensi dari guru.

Sebaliknya, ketika guru merasa dihargai sebagai profesional, mereka cenderung lebih terbuka terhadap perubahan.

Kepemimpinan Sekolah sebagai Penentu Arah Supervisi

Keberhasilan supervisi tidak dapat dilepaskan dari kepemimpinan sekolah. Kepala sekolah bukan hanya administrator, tetapi juga pemimpin pembelajaran (instructional leader) yang bertanggung jawab memastikan proses pendidikan berjalan optimal.

PenuliS: Nurhayati, Mahasiswa PTIQ Jakarta Dengan NIM 2486208183

Editor: Bifanda Ariandhana, Tim BeritaKuliah.com