BERITAKULIAH.COM, DEPOK — Departemen Geografi Universitas Indonesia melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Monitoring Dinamika Bentuk Lahan Pantai di Pulau Harapan dan Sekitarnya”. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, Sabtu hingga Minggu, 17–18 Mei 2025, yang berlokasi di Pulau Harapan, Kepulauan Seribu. Acara ini diketuai oleh Dra. Astrid Damayanti, M.Si., dan didampingi oleh Dr. Ir. Idwan Suhardi, Ph.D. serta melibatkan sivitas akademika UI yang terdiri dari mahasiswa dan dosen pembimbing, dengan tujuan untuk memonitoring perubahan bentuk lahan pantai di kawasan pesisir Pulau Harapan dan sekitarnya, sekaligus memberikan kontribusi ilmiah bagi masyarakat setempat.
Dosen pendamping lapangan sekaligus ketua kegiatan, Dra. Astrid Damayanti, M.Si., menyampaikan bahwa program ini dirancang untuk memperkuat kepekaan lingkungan mahasiswa terhadap kawasan pesisir. “Kami ingin mahasiswa memahami bahwa wilayah pesisir bukan hanya tempat wisata, tapi juga ruang hidup yang kompleks dan dinamis, yang membutuhkan pemahaman ilmiah untuk pengelolaannya secara berkelanjutan. Melalui kegiatan ini, kami mendorong mahasiswa untuk tidak hanya mengamati bentuk-bentuk lahan pantai secara fisik, tetapi juga menelaah bagaimana dinamika sosial, ekonomi, dan lingkungan saling memengaruhi di kawasan pesisir. Harapannya, mereka dapat tumbuh menjadi geografer yang tidak hanya andal dalam analisis spasial, tetapi juga memiliki sensitivitas sosial dan komitmen terhadap keberlanjutan wilayah pesisir Indonesia,” ujar Astrid.
Senada dengan itu, Dr. Ir. Idwan Suhardi, Ph.D., dosen Dinamika Bentuk Lahan Pantai yang turut memberikan arahan dalam kegiatan ini, menekankan pentingnya keterlibatan mahasiswa dalam aksi nyata berbasis data. “Ini bukan hanya praktik belajar di lapangan, tapi juga langkah awal membangun jembatan antara ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat pesisir,” ujarnya. Menurut Idwan, proses pengumpulan data geospasial seperti pemetaan garis pantai, pengamatan jenis substrat pantai, hingga dokumentasi kondisi fisik pulau, memberikan mahasiswa pengalaman empiris yang sangat penting. Tidak hanya untuk mendukung penguatan konsep-konsep geomorfologi dan oseanografi, tetapi juga untuk membentuk sikap ilmiah dalam menghadapi tantangan nyata di lapangan. Ia berharap, keterlibatan aktif mahasiswa dalam kegiatan seperti ini mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya piawai secara akademik, namun juga siap terjun dan berkontribusi dalam menyelesaikan permasalahan lingkungan di tingkat lokal maupun nasional.

Dalam bidang ilmu geografi, pemahaman terhadap fenomena alam—khususnya aspek fisik seperti bentuk lahan pantai (coastal landforms)—menjadi penting dalam memahami dinamika wilayah pesisir. Salah satu wilayah yang kaya akan keragaman bentuk lahan pantai adalah Kepulauan Seribu yang terletak di bagian utara Teluk Jakarta. Kawasan ini terdiri dari gugusan pulau karang, pasir, serta pulau reklamasi yang memiliki karakteristik geomorfologi dan dinamika pantai yang kompleks akibat pengaruh proses oseanografi (pasang surut, arus, gelombang) serta aktivitas manusia. Oleh karena itu, pemahaman terhadap dinamika bentuk lahan pantai tidak hanya penting untuk kajian akademik, tetapi juga sangat relevan dalam konteks perencanaan pesisir, mitigasi bencana, konservasi wilayah pesisir, maupun kegiatan pengabdian kepada masyarakat berbasis ilmu kebumian.
Kegiatan ini menjadi sarana bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan teori-teori yang telah dipelajari di kelas secara langsung di lapangan. Selama mengikuti perkuliahan, mahasiswa dibekali dengan pemahaman tentang dinamika bentuk lahan pantai dan berbagai proses geomorfologis yang membentuknya. Melalui kegiatan ini, teori-teori tersebut diuji dan dikontekstualisasikan melalui pengamatan langsung terhadap kondisi nyata di beberapa pulau di Kepulauan Seribu, yakni Pulau Harapan, Pulau Kelapa, Pulau Bira Besar, Pulau Bulat, dan Pulau Dolphin. Kelima pulau tersebut dipilih karena merepresentasikan keragaman bentuk lahan pantai, karakteristik geomorfologi, dan pola pemanfaatan ruang oleh masyarakat pesisir.
![]() | ![]() |
|---|---|
| Kegiatan pengambilan sampel dalam kegiatan Pengmas DBLP di Pulau Dolphin pada 17 Mei 2025 | |
Lebih dari sekadar kegiatan pembelajaran, observasi lapangan ini juga dirancang sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat berbasis data. Mahasiswa diberi ruang untuk mengembangkan sensitivitas terhadap isu-isu lingkungan dan sosial yang dihadapi masyarakat pesisir, serta menyampaikan temuannya melalui kegiatan pemaparan hasil di akhir kegiatan. Dalam konteks tersebut, pengabdian masyarakat tidak hanya menjadi pelengkap kegiatan akademik, tetapi juga menjadi wujud nyata kontribusi mahasiswa terhadap tata kelola dan keberlanjutan wilayah pesisir di Kepulauan Seribu.
Salah satu momen penting dari rangkaian kegiatan ini adalah sesi pemaparan hasil monitoring yang dilaksanakan di Pulau Kelapa pada malam hari pertama kegiatan. Dalam sesi ini, mahasiswa mempresentasikan temuan awal kepada masyarakat setempat, termasuk kepada Ketua RW 02 Pulau Kelapa, Bapak Mustar, yang hadir mewakili Lurah Pulau Kelapa, Bapak Muslim. Dalam sambutannya, Bapak Mustar menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan ini. “Kami sangat mengapresiasi kehadiran mahasiswa dan dosen dari Universitas Indonesia yang telah datang dan melakukan penelitian di wilayah kami. Kehadiran kalian bukan hanya membawa ilmu, tapi juga membuka ruang dialog dan kerja sama antara akademisi dan masyarakat. Semoga hasil dari kegiatan ini bisa memberikan manfaat nyata bagi pengelolaan lingkungan pesisir di Kepulauan Seribu, khususnya Pulau Kelapa dan sekitarnya,” ujarnya.

Sebagai bagian dari kontribusi terhadap pemerintahan daerah, khususnya Pemerintah Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, kegiatan ini memberikan data awal yang dapat dimanfaatkan dalam perencanaan dan pengelolaan wilayah pesisir. Data hasil monitoring dinamika bentuk lahan pantai yang dikumpulkan oleh mahasiswa dapat menjadi referensi bagi pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan terkait konservasi, mitigasi bencana, dan pengembangan wilayah pesisir secara berkelanjutan. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam mengintegrasikan penataan ruang zona konservasi dan rehabilitasi, seperti kebun bibit karang, kebun bibit tanaman pesisir, dan zona konservasi lainnya, dengan fungsi zona informasi.
Salah satu peserta kegiatan, Annisa Dewi Al Eddy, mahasiswa Geografi UI, mengungkapkan bahwa pengalaman ini sangat memperkaya pemahaman teoritisnya. “Selama ini saya mempelajari bentuk lahan pantai melalui literatur dan citra satelit. Tapi melalui kegiatan ini, kami bisa langsung melihat bagaimana bentuk-bentuk tersebut terbentuk di lapangan. Hal ni membuat saya sadar bahwa dinamika pantai bukan hanya spasial, tapi juga temporal dan sangat kontekstual,” jelasnya.
Dengan demikian, kegiatan pengabdian masyarakat ini tidak hanya memperkuat pemahaman akademik mahasiswa, tetapi juga memberikan kontribusi nyata dalam mendukung program-program pemerintah daerah dalam pengelolaan sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil di Kepulauan Seribu. Melalui program ini, sivitas akademika Universitas Indonesia menunjukkan kepedulian terhadap tantangan keberlanjutan lingkungan pesisir, sekaligus mewujudkan semangat Tridharma Perguruan Tinggi melalui kontribusi ilmiah dan aksi nyata di lapangan.
Penulis: Annisa Dewi Al Eddy, Geografi UI 2022















