Public Speaking, Senjata Utama Gen Z Menghadapi Tantangan Komunikasi di Era Digital

Avatar photo
Public Speaking, Senjata Utama Gen Z Menghadapi Tantangan Komunikasi di Era Digital
Seseorang melakukan presentasi menggunakan perangkat laptop di hadapan audiens.

BERITAKULIAH.COM, Surabaya — Generasi Z merupakan generasi yang tumbuh bersamaan dengan berkembangnya gadget atau teknologi. Generasi Z sendiri lahir di antara tahun 1997 sampai 2012. Karena tumbuh berdampingan dengan gadget atau teknologi, kehidupan dari orang-orang yang termasuk ke dalam generasi Z menjadi lebih mudah. Untuk bersosialisasi, mereka tidak perlu bertemu langsung dengan orang yang ingin mereka temui.

Semua itu dapat mereka lakukan melalui gadget atau teknologi yang memungkinkan mereka untuk berbicara atau bersosialisasi dengan orang lain tersebut, walaupun berada di jarak yang sangat jauh. Mengikuti alasan tersebut, banyak generasi Z yang akhirnya tidak ingin bersosialisasi secara langsung, entah karena malas, malu, atau bahkan lupa bagaimana cara bersosialisasi secara langsung.

Public speaking merupakan sebuah soft skill yang dapat digunakan untuk menyampaikan sesuatu yang ingin kita sampaikan ke orang lain dalam jumlah yang banyak atau biasa disebut dengan audiens. Selain untuk berbicara dengan audiens yang banyak, public speaking juga sering digunakan untuk meningkatkan rasa percaya diri. Dengan banyaknya kasus generasi Z yang menjadi sulit untuk bersosialisasi, melatih skill public speaking dapat menjadi salah satu solusi alternatif.

Public speaking menjadi skill yang sangat penting untuk dikuasai, karena melalui public speaking kita dapat menjadi lebih percaya diri dan dapat berbicara dengan baik dan benar. Hal ini juga menjadi sebuah solusi untuk generasi Z. Dengan mereka melatih skill public speaking, mereka dapat mulai kembali bersosialisasi. Mereka juga dapat melepas kebiasaan mereka yang sudah terbiasa menggunakan media sosial untuk bersosialisasi.

Dengan melatih skill public speaking pula, mereka jadi dapat melepaskan pandangan mereka dari gadget atau teknologi yang mereka gunakan, seperti komputer, handphone, dan lain-lain. Mereka dapat kembali melihat dunia di sekitar mereka dan belajar untuk tidak di “manja” kan lagi oleh gadget yang mereka miliki.

Artikel ini ditulis untuk memenuhi tugas dosen pengampu mata kuliah Public Speaking Drs. Widiyatmo Ekoputro, M. A.

Penulis : Rizhandi Ardhian Permana (1152400178)
Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Dosen Pengampu: Drs. Widiyatmo Ekoputro, M.A.
Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Public Speaking

Editor: Bifanda Ariandhana, Tim BeritaKuliah.com