BERITAKULIAH.COM, Bekasi — Kota Bekasi merupakan wilayah penyangga ibu kota dengan karakteristik masyarakat yang sangat heterogen. Sebagai titik temu (melting pot) berbagai etnis dan latar belakang sosial, tantangan dalam menjaga tradisi keagamaan di kota ini menjadi sangat kompleks.
Di tengah arus urbanisasi dan modernitas, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Bekasi memainkan peran krusial. Dalam silaturahmi di Ponpes Miftahul Jannah Kranggan, Abah Drs. KH. Abu Bakar Rahziz, MA (Rais Syuriyah PCNU Kota Bekasi) menegaskan pentingnya memastikan nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah tetap relevan dan terwariskan dengan baik kepada generasi mendatang.

Landasan Nilai: Jangkar di Tengah Dinamika Urban
Pewarisan nilai ke-NU-an di Kota Bekasi tidak sekadar menjaga ritual peribadatan, tetapi juga menanamkan pola pikir (manhajul fikr) yang moderat. Empat pilar utama NU menjadi jangkar bagi warga Nahdliyin Bekasi dalam menghadapi potensi gesekan ideologi:
- Tawassuth (Moderat): Mengambil jalan tengah, menghindari sikap ekstrem kanan maupun kiri.
- Tawazun (Seimbang): Menyeimbangkan pengabdian kepada Allah SWT, sesama manusia, dan lingkungan.
- I’tidal (Tegak Lurus/Adil): Bertindak proporsional dalam menjalankan hak dan kewajiban.
- Tasamuh (Toleran): Menghargai perbedaan pendapat serta latar belakang keyakinan.
Strategi Pewarisan dalam Struktur Organisasi
PCNU Kota Bekasi melakukan transformasi organisasi agar nilai-nilai klasik dapat diterima oleh masyarakat urban melalui tiga strategi utama:
1. Kaderisasi Berjenjang melalui Banom
Pewarisan nilai dilakukan secara terstruktur melalui Badan Otonom (Banom). GP Ansor dan Banser menjadi garda terdepan dalam menjaga fisik serta ideologi organisasi. Sementara itu, IPNU dan IPPNU bergerak menyasar pelajar di sekolah umum dan pesantren untuk memupuk kecintaan pada organisasi sejak dini.
2. Penguatan Majelis Taklim dan Lailatul Ijtima’
Di kawasan perumahan, tradisi Lailatul Ijtima’ dan pengajian kitab kuning tetap dipertahankan. Forum ini menjadi ruang dialektika langsung antara kiai dan jemaah, sekaligus memastikan sanad keilmuan tetap terjaga di tengah gempuran informasi media sosial.
3. Adaptasi Digital dan Literasi
Menyadari posisi Bekasi sebagai kota digital, NU Bekasi aktif merambah dakwah daring. Nilai ke-NU-an dikemas dalam konten kreatif untuk menjangkau milenial dan Gen Z, khususnya mereka yang tinggal di apartemen atau kawasan industri yang memiliki keterbatasan akses fisik ke pesantren.
Dinamika politik lokal dan isu radikalisme merupakan tantangan nyata. Namun, dengan semangat Hubbul Wathan Minal Iman (Cinta Tanah Air adalah sebagian dari iman), NU Kota Bekasi berhasil menjadi mitra strategis pemerintah dalam menjaga kondusivitas kota.
Upaya ini sejalan dengan prinsip al-muhafadzatu ‘ala qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah (memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil inovasi baru yang lebih baik). Dengan demikian, NU di Kota Bekasi tidak hanya menjadi organisasi massa, tetapi menjadi “rumah besar” yang teduh bagi keberagaman.
Keberlanjutan nilai ke-NU-an di Kota Bekasi sangat bergantung pada kemampuan organisasi dalam menerjemahkan tradisi ke dalam bahasa kekinian tanpa kehilangan substansinya. Sinergi antara struktur organisasi, lembaga pendidikan, dan pemanfaatan teknologi adalah kunci utama agar NU tetap eksis dan relevan di jantung “Kota Patriot”.
Penulis: KH. Ruston Nawawi, S.Pd.I













