BERITAKULIAH.COM, Malang — Indonesia memiliki kekayaan budaya dan bahasa daerah yang sangat beragam. Arus globalisasi dan digitalisasi menghadirkan tantangan serius terhadap keberlangsungan bahasa daerah, termasuk bahasa Osing yang digunakan masyarakat Banyuwangi. Bahasa Osing berfungsi sebagai fondasi identitas budaya yang merepresentasikan nilai, tradisi, serta ingatan kolektif masyarakat Osing.
Penurunan penggunaan bahasa daerah berdampak bukan hanya pada hilangnya kosakata, tetapi juga pada keberlanjutan identitas budaya lokal. Dalam konteks tersebut, generasi muda menempati posisi strategis sebagai penjaga sekaligus penggerak pelestarian bahasa Osing di tengah perubahan zaman.
Kontribusi Generasi Muda dalam Mendokumentasikan dan Mempopulerkan Budaya Osing
Perkembangan teknologi digital membuka peluang baru bagi generasi muda untuk mendokumentasikan dan mempopulerkan budaya Osing secara lebih luas. Perekaman tarian tradisional seperti Gandrung dan Barong, pengarsipan musik, serta pendokumentasian bahasa Osing dalam format digital memungkinkan tradisi yang sebelumnya terbatas secara geografis dapat diakses oleh khalayak yang lebih luas. Media sosial dan platform digital menghadirkan budaya Osing ke ruang global tanpa melepaskan akar lokal.
Peran generasi muda tidak berhenti sebagai pengguna teknologi, tetapi berkembang sebagai pengelola dan produsen konten budaya. Pemanfaatan media digital untuk menyajikan tradisi Osing dengan pendekatan kreatif yang relevan dengan selera generasi saat ini terbukti efektif menumbuhkan kembali rasa bangga terhadap budaya lokal. Partisipasi aktif tersebut turut mendorong keterlibatan generasi muda lain untuk mengenal serta menghargai warisan leluhur. Sinergi antara teknologi dan semangat anak muda menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan budaya Osing lintas generasi.
Dampak Berkurangnya Penggunaan Bahasa Osing dan Peluang Teknologi
Penurunan penggunaan bahasa Osing di kalangan generasi muda berdampak langsung pada melemahnya transmisi bahasa antar generasi. Dominasi bahasa Indonesia, bahasa asing, serta bahasa gaul di ruang digital menyebabkan bahasa Osing semakin jarang digunakan dalam interaksi sehari-hari. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan jarak komunikasi antargenerasi sekaligus mengikis nilai filosofis yang terkandung dalam bahasa Osing.
Di sisi lain, perkembangan teknologi menghadirkan peluang besar untuk membalikkan kondisi tersebut. Media sosial, musik digital, dan konten video pendek berpotensi menjadi sarana efektif untuk menghidupkan kembali bahasa Osing secara kontekstual dan menarik. Lagu-lagu Banyuwangi berbahasa Osing yang tersebar di platform digital mampu menumbuhkan minat generasi muda terhadap bahasa lokal dengan pendekatan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Penyajian yang tepat mendorong bahasa Osing tampil sebagai identitas yang relevan dan bernilai.
Upaya dan Strategi Generasi Muda dalam Menjaga serta Mempromosikan Bahasa Osing Secara Digital
Pemanfaatan media sosial seperti TikTok, Instagram, dan YouTube dimaksimalkan sebagai ruang promosi bahasa Osing. Konten kreatif, kolaborasi dengan kreator lokal, serta penyajian bahasa Osing dalam format ringan dan komunikatif memperluas jangkauan audiens. Pendekatan visual dan interaktif menjadikan bahasa Osing lebih dekat dengan gaya komunikasi digital masa kini.
Digitalisasi kosakata, naskah, serta dokumen tradisional bahasa Osing turut menjadi langkah konkret dalam menjaga keberlanjutan bahasa daerah. Pengembangan aplikasi pembelajaran dan program literasi digital berbasis kearifan lokal memperkuat posisi bahasa Osing dalam dunia pendidikan. Teknologi berfungsi sebagai jembatan penghubung nilai budaya masa lalu dengan kebutuhan generasi masa depan, sekaligus menjaga bahasa Osing tetap lestari, relevan, dan memiliki daya hidup di tengah arus globalisasi.
Kesimpulannya, bahasa Osing berperan sebagai fondasi identitas budaya masyarakat Banyuwangi, namun keberadaannya menghadapi ancaman modernisasi serta dominasi bahasa nasional dan asing, terutama di kalangan generasi muda. Situasi tersebut berpotensi melemahkan proses transfer nilai budaya dan identitas antar generasi.
Generasi muda memegang peran strategis sebagai agen pelestarian melalui pemanfaatan teknologi digital untuk mendokumentasikan, mempopulerkan, dan merevitalisasi bahasa serta budaya Osing. Sinergi antara kearifan lokal dan inovasi digital menjadi kunci utama agar bahasa Osing tetap lestari, relevan, dan berdaya hidup di tengah dinamika zaman.

Penulis: Gilang Ramadhan Putra (202510170110014)
Mahasiswa S1 Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Muhammadiyah Malang













