Peningkatan Menabung Emas terhadap Strategi Cerdas Mahasiswa Menghadapi Krisis dan Inflasi

Avatar photo
Peningkatan Menabung Emas terhadap Strategi Cerdas Mahasiswa Menghadapi Krisis dan Inflasi
Deretan logam mulia atau emas batangan yang menjadi salah satu instrumen investasi favorit untuk menjaga nilai aset dari gerusan inflasi.

BERITAKULIAH.COM, Malang — Ketidakstabilan ekonomi global dan domestik beberapa tahun terakhir semakin terasa, tercermin dari kenaikan inflasi, melemahnya daya beli masyarakat, dan potensi perlambatan ekonomi. Situasi ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan ancaman nyata yang secara langsung memengaruhi kondisi keuangan mahasiswa, terutama dengan meningkatnya biaya hidup dan pendidikan yang harus dipenuhi secara berkelanjutan (Badan Pusat Statistik, 2024).

Di tengah kondisi ekonomi yang bergejolak, keterampilan mengelola finansial bukan lagi pilihan, melainkan suatu keharusan bagi mahasiswa agar tidak terjebak dalam krisis pribadi. Meskipun demikian, realitanya literasi keuangan di kalangan mereka masih tergolong rendah hingga menengah, menyebabkan perencanaan keuangan jangka panjang sering terabaikan demi memenuhi kebutuhan jangka pendek. Keterbatasan pemahaman demikian berpotensi memperparah kerentanan finansial, khususnya saat tekanan inflasi dan ketidakpastian ekonomi terus berlanjut tanpa kepastian kapan akan mereda (Otoritas Jasa Keuangan, 2023).

Menyikapi kondisi tersebut, instrumen investasi klasik seperti tabungan emas mulai kembali dipertimbangkan sebagai salah satu opsi strategi pengelolaan keuangan yang paling rasional. Emas dikenal memiliki stabilitas nilai yang baik dan secara historis terbukti mampu menjaga daya beli selama periode inflasi yang tinggi (Asyarofah et al., 2023). Karakteristik ini membuat emas sangat relevan sebagai instrumen perlindungan nilai aset, khususnya bagi individu dengan profil risiko moderat dan modal awal terbatas. Apalagi saat ini, dukungan layanan keuangan digital turut memperluas akses pembelian emas dengan nominal yang sangat terjangkau, memfasilitasi mahasiswa untuk mulai membangun kebiasaan menabung secara bertahap tanpa harus menunggu dana besar terkumpul (Jemali et al., 2024).

Lebih dari sekadar alat akumulasi kekayaan, menabung emas secara konsisten sebenarnya berperan dalam memperkuat ketahanan ekonomi perorangan dari level yang paling dasar. Praktik menabung ini secara tidak langsung mendorong kedisiplinan dalam mengelola prioritas keuangan, serta membantu individu tetap tenang dalam menghadapi tekanan ekonomi yang disebabkan oleh inflasi atau krisis yang mendadak. Dalam perspektif jangka panjang, nilai emas yang cenderung stabil di tengah volatilitas mata uang menjadikannya pilihan instrumen finansial yang patut dipertimbangkan guna menjaga nilai aset agar tetap utuh bagi masa depan (World Gold Council, 2023).

Urgensi Literasi Keuangan Mahasiswa dalam Menghadapi Inflasi dan Krisis Ekonomi

Keputusan investasi mahasiswa dalam menghadapi inflasi dan ketidakpastian ekonomi tidak terbentuk secara tunggal, melainkan dipengaruhi oleh keterkaitan antara faktor ekonomi dan kognitif, khususnya pendapatan, literasi keuangan, serta persepsi risiko. Ketiga faktor tersebut berperan dalam menentukan kemampuan mahasiswa menyesuaikan perilaku investasinya terhadap dinamika ekonomi yang cenderung fluktuatif. Interaksi antar faktor tersebut membentuk kerangka pengambilan keputusan investasi yang bersifat adaptif dan berorientasi jangka panjang (Milzam et al., 2024).

Pendapatan tidak hanya merepresentasikan sumber dana yang dimiliki mahasiswa, tetapi juga mencerminkan tingkat fleksibilitas finansial dalam menyusun strategi investasi. Mahasiswa dengan tingkat pendapatan yang lebih tinggi umumnya memiliki ruang yang lebih luas untuk mengalokasikan dana ke berbagai instrumen investasi serta melakukan diversifikasi aset. Kondisi tersebut berkontribusi terhadap upaya menjaga stabilitas finansial, terutama ketika inflasi berpotensi menurunkan daya beli dan nilai riil simpanan (Megasari et al., 2022), sejalan dengan temuan Latifah et al. (2022) yang menegaskan bahwa tingkat pendapatan berpengaruh signifikan terhadap kemampuan individu dalam mengambil keputusan investasi jangka panjang yang lebih terencana.

Selain pendapatan, literasi keuangan menjadi faktor kunci yang menentukan kualitas keputusan investasi mahasiswa, khususnya dalam situasi ekonomi yang tidak stabil. Pemahaman mengenai pengelolaan anggaran, kebiasaan menabung, serta karakteristik berbagai instrumen investasi memungkinkan mahasiswa melakukan penilaian risiko dan imbal hasil secara lebih rasional. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa literasi keuangan yang memadai berkorelasi positif dengan kualitas keputusan investasi serta meningkatkan kemampuan evaluatif dalam memilih instrumen yang sesuai dengan tujuan keuangan, sekaligus menekan kecenderungan perilaku spekulatif pada masa ketidakpastian ekonomi (Milzam et al., 2024).

Persepsi risiko turut membentuk pola pengambilan keputusan investasi mahasiswa ketika berhadapan dengan kondisi ekonomi yang bergejolak. Pemahaman risiko yang baik memungkinkan investor mengenali potensi kerugian, tingkat volatilitas, serta ketidakpastian yang melekat pada setiap instrumen investasi. Persepsi risiko yang matang mendorong pengambilan keputusan investasi yang lebih terukur dan rasional, sekaligus berfungsi sebagai mekanisme pengendalian terhadap perilaku impulsif yang sering muncul pada situasi inflasi dan krisis ekonomi (Lestari et al., 2022).

Keterkaitan antara pendapatan, literasi keuangan, dan persepsi risiko menunjukkan bahwa keputusan investasi mahasiswa merupakan hasil dari proses penilaian yang bersifat multidimensional. Mahasiswa dengan literasi keuangan yang baik dan persepsi risiko yang matang cenderung mampu mengoptimalkan keterbatasan pendapatan melalui pemilihan instrumen investasi yang lebih aman dan sesuai dengan tujuan keuangan jangka panjang. Sinergi antar faktor tersebut memperkuat kemampuan mahasiswa dalam menjaga stabilitas finansial serta menyesuaikan strategi investasi di tengah tekanan inflasi dan ketidakpastian ekonomi (Milzam et al., 2024).

Dalam konteks ekonomi global yang terus berubah, investasi memiliki peran penting sebagai sarana pengalokasian modal jangka panjang guna menjaga stabilitas finansial pada masa mendatang. Namun, meningkatnya budaya konsumtif kerap menjadi tantangan karena berpotensi mengikis kebiasaan menabung dan kesadaran akan pentingnya investasi, terutama di kalangan mahasiswa dan Generasi Z.

Pengelolaan keuangan pribadi yang terstruktur dan disiplin menjadi fondasi utama dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global yang semakin kompleks (Dirman et al., 2022). Sebagai respons terhadap kondisi tersebut, edukasi investasi emas dipandang sebagai langkah strategis dalam meningkatkan kesadaran finansial sejak usia mahasiswa. Emas dikenal sebagai instrumen investasi yang relatif stabil dan berfungsi sebagai pelindung nilai terhadap inflasi, sehingga sesuai bagi mahasiswa dengan keterbatasan modal dan tingkat toleransi risiko yang moderat. Pendekatan edukatif yang tepat terbukti mampu membentuk pola pikir generasi muda yang lebih berorientasi pada perencanaan keuangan jangka panjang serta mendorong pemanfaatan produk investasi yang inklusif dan berkelanjutan (Jemali et al., 2024).

Peran Emas sebagai Aset Pelindung Nilai di Tengah Ketidakstabilan Ekonomi

Emas memiliki peran sentral sebagai instrumen investasi yang mampu memitigasi risiko penurunan nilai kekayaan akibat inflasi dan volatilitas ekonomi. Karakteristik emas sebagai aset safe haven memberikan stabilitas nilai yang relatif lebih konsisten dibandingkan instrumen pasar modal yang rentan terhadap fluktuasi harga (Tannady et al., 2022). Sejumlah kajian empiris menunjukkan bahwa pergerakan harga emas cenderung meningkat seiring dengan kenaikan laju inflasi, sehingga memperkuat fungsinya sebagai alat lindung nilai (hedging) dalam menjaga daya beli masyarakat (Supeni et al., 2023).

Hubungan tersebut menjadikan emas sebagai aset yang memiliki daya tahan tinggi terhadap erosi nilai uang dalam jangka panjang. Selain faktor inflasi, perubahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat turut memengaruhi dinamika harga emas domestik, mengingat mekanisme pembentukan harga emas sangat berkaitan dengan pasar global. Tekanan terhadap nilai tukar rupiah secara historis mendorong peningkatan permintaan emas sebagai alternatif penyimpanan nilai yang lebih aman pada periode ketidakpastian ekonomi (Supeni et al., 2023).

Peningkatan ketidakpastian ekonomi global yang disertai eskalasi risiko geopolitik telah mendorong perubahan pola preferensi investasi ke arah instrumen yang memiliki tingkat risiko relatif rendah (low risk assets) (Lestari et al., 2022). Dalam kerangka manajemen keuangan mikro, logam mulia diposisikan sebagai aset cadangan yang bersifat likuid serta mudah dipindahtangankan.

Karakteristik likuiditas tersebut memungkinkan emas untuk dikonversi menjadi dana tunai secara cepat ketika menghadapi kondisi darurat atau tekanan ekonomi yang tidak terduga (Supeni et al., 2023). Fleksibilitas ini memberikan rasa aman bagi pemilik aset karena tidak terikat oleh jangka waktu tertentu sebagaimana instrumen keuangan lainnya. Pemanfaatan emas sebagai instrumen penyangga keuangan jangka panjang mencerminkan strategi perlindungan aset yang adaptif terhadap kondisi ekonomi yang berfluktuasi (Lestari et al., 2022).

Peran emas tidak hanya terbatas pada pengelolaan keuangan individu, tetapi juga memiliki kontribusi penting pada dimensi makroekonomi nasional. Emas berfungsi sebagai bagian dari cadangan devisa yang mendukung stabilitas nilai tukar serta memperkuat efektivitas kebijakan moneter yang diterapkan oleh otoritas keuangan (Hidayat et al., 2023). Keberadaan emas sebagai aset cadangan strategis berperan dalam meningkatkan kepercayaan pasar terhadap ketahanan ekonomi nasional. Kontribusi tersebut menjadi semakin signifikan pada periode tekanan global yang berpotensi memengaruhi stabilitas sistem keuangan dan pasar domestik. Posisi strategis emas menegaskan perannya sebagai instrumen ekonomi yang berkontribusi terhadap ketahanan makroekonomi jangka panjang (Hidayat et al., 2023).

Bagi mahasiswa, kepemilikan emas mencerminkan penerapan strategi pengelolaan keuangan yang lebih terencana dan berorientasi jangka panjang. Pemanfaatan emas sebagai aset lindung nilai berkontribusi dalam pembentukan perilaku investasi yang lebih disiplin sejak fase awal pengelolaan keuangan pribadi (Milzam et al., 2024). Pertimbangan terhadap stabilitas nilai emas dan risiko ekonomi makro mendorong mahasiswa mengembangkan pola pengambilan keputusan finansial yang lebih rasional serta berkelanjutan. Integrasi emas dalam portofolio keuangan juga memperkuat ketahanan finansial individu melalui diversifikasi aset yang responsif terhadap dinamika ekonomi global (Lestari et al., 2022). Strategi perencanaan keuangan tersebut berperan dalam menjaga keberlanjutan daya beli serta stabilitas kesejahteraan ekonomi mahasiswa pada masa mendatang (Tannady et al., 2022).

Selain itu, perkembangan teknologi finansial dan layanan digital turut memperkuat peran emas sebagai instrumen investasi yang mudah diakses oleh mahasiswa. Aplikasi perbankan digital dan platform jual beli emas memungkinkan mahasiswa memantau harga emas secara real-time, melakukan pembelian atau penjualan dalam jumlah kecil, serta menyimpan catatan transaksi secara transparan.

Kemudahan ini mendorong terciptanya kebiasaan menabung emas secara disiplin sejak dini, sekaligus meningkatkan literasi finansial digital yang krusial dalam menghadapi dinamika ekonomi modern (Jemali et al., 2024). Peran literasi keuangan syariah juga signifikan dalam membentuk minat dan perilaku investasi mahasiswa, karena pemahaman yang baik terhadap prinsip syariah mendorong pengambilan keputusan investasi yang lebih rasional, terukur, dan tidak spekulatif (Pakpahan et al., 2023). Dengan integrasi antara literasi keuangan, prinsip syariah, dan kemudahan teknologi digital, mahasiswa dapat membangun portofolio investasi emas yang adaptif, aman, dan berkelanjutan dalam jangka panjang.

Upaya Menabung Emas Sebagai Strategi Keuangan Jangka Panjang bagi Mahasiswa Menghadapi Krisis dan Inflasi

Emas memiliki peran sentral sebagai instrumen investasi yang mampu memitigasi risiko penurunan nilai kekayaan akibat inflasi dan volatilitas ekonomi. Karakteristik emas sebagai aset safe haven memberikan stabilitas nilai yang relatif lebih konsisten dibandingkan instrumen pasar modal yang rentan terhadap fluktuasi harga (Tannady et al., 2022). Sejumlah kajian empiris menunjukkan bahwa pergerakan harga emas cenderung meningkat seiring dengan kenaikan laju inflasi, sehingga memperkuat fungsinya sebagai alat lindung nilai (hedging) dalam menjaga daya beli masyarakat (Supeni et al., 2023). Hubungan tersebut menjadikan emas sebagai aset yang memiliki daya tahan tinggi terhadap erosi nilai uang dalam jangka panjang. Selain faktor inflasi, perubahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat turut

memengaruhi dinamika harga emas domestik, mengingat mekanisme pembentukan harga emas sangat berkaitan dengan pasar global. Tekanan terhadap nilai tukar rupiah secara historis mendorong peningkatan permintaan emas sebagai alternatif penyimpanan nilai yang lebih aman pada periode ketidakpastian ekonomi (Supeni et al., 2023).

Peningkatan ketidakpastian ekonomi global yang disertai eskalasi risiko geopolitik telah mendorong perubahan pola preferensi investasi ke arah instrumen yang memiliki tingkat risiko relatif rendah (low risk assets) (Lestari et al., 2022). Dalam kerangka manajemen keuangan mikro, logam mulia diposisikan sebagai aset cadangan yang bersifat likuid serta mudah dipindahtangankan.

Karakteristik likuiditas tersebut memungkinkan emas untuk dikonversi menjadi dana tunai secara cepat ketika menghadapi kondisi darurat atau tekanan ekonomi yang tidak terduga (Supeni et al., 2023). Fleksibilitas tersebut memberikan rasa aman bagi pemilik aset karena tidak terikat oleh jangka waktu tertentu sebagaimana instrumen keuangan lainnya. Pemanfaatan emas sebagai instrumen penyangga keuangan jangka panjang mencerminkan strategi perlindungan aset yang adaptif terhadap kondisi ekonomi yang berfluktuasi (Lestari et al., 2022).

Peran emas tidak hanya terbatas pada pengelolaan keuangan individu, tetapi juga memiliki kontribusi penting pada dimensi makroekonomi nasional. Emas berfungsi sebagai bagian dari cadangan devisa yang mendukung stabilitas nilai tukar serta memperkuat efektivitas kebijakan moneter yang diterapkan oleh otoritas keuangan (Hidayat et al., 2023). Keberadaan emas sebagai aset cadangan strategis berperan dalam meningkatkan kepercayaan pasar terhadap ketahanan ekonomi nasional. Kontribusi tersebut menjadi semakin signifikan pada periode tekanan global yang berpotensi memengaruhi stabilitas sistem keuangan dan pasar domestik. Posisi strategis emas menegaskan perannya sebagai instrumen ekonomi yang berkontribusi terhadap ketahanan makroekonomi jangka panjang (Hidayat et al., 2023).

Bagi mahasiswa, kepemilikan emas mencerminkan penerapan strategi pengelolaan keuangan yang lebih terencana dan berorientasi jangka panjang. Pemanfaatan emas sebagai aset lindung nilai berkontribusi dalam pembentukan

perilaku investasi yang lebih disiplin sejak fase awal pengelolaan keuangan pribadi (Milzam et al., 2024). Pertimbangan terhadap stabilitas nilai emas dan risiko ekonomi makro mendorong mahasiswa mengembangkan pola pengambilan keputusan finansial yang lebih rasional serta berkelanjutan. Integrasi emas dalam portofolio keuangan juga memperkuat ketahanan finansial individu melalui diversifikasi aset yang responsif terhadap dinamika ekonomi global (Lestari et al., 2022). Strategi perencanaan keuangan tersebut berperan dalam menjaga keberlanjutan daya beli serta stabilitas kesejahteraan ekonomi mahasiswa pada masa mendatang (Tannady et al., 2022).

Menabung emas menjadi salah satu strategi keuangan jangka panjang yang banyak dipertimbangkan mahasiswa untuk menghadapi inflasi serta ketidakpastian ekonomi di masa mendatang, terutama ketika biaya hidup dan kebutuhan pendidikan terus mengalami peningkatan. Kenaikan harga kebutuhan pokok dan biaya pendidikan mendorong mahasiswa untuk mencari instrumen investasi yang mampu menjaga nilai kekayaan secara berkelanjutan. Melalui produk cicil emas, mahasiswa dapat memulai investasi secara bertahap sesuai kemampuan finansial tanpa harus menyediakan dana besar di awal. Mekanisme penjaminan emas hingga seluruh kewajiban pembayaran diselesaikan memberikan rasa aman dalam proses investasi yang dilakukan (Muin et al., 2022).

Literasi keuangan syariah memiliki peran penting dalam membentuk minat dan perilaku investasi mahasiswa, khususnya dalam memilih instrumen yang relatif aman seperti emas. Mahasiswa dengan tingkat literasi keuangan yang baik cenderung memahami konsep pengelolaan keuangan, tujuan investasi, serta karakteristik risiko dari setiap instrumen yang tersedia (Pakpahan et al., 2023). Pemahaman tersebut membantu mahasiswa dalam menilai kesesuaian investasi emas dengan prinsip syariah yang dianut. Tingkat literasi keuangan yang memadai mendorong pengambilan keputusan investasi yang lebih rasional, terencana, dan tidak bersifat spekulatif. Kondisi tersebut memperkuat orientasi investasi jangka panjang dalam menghadapi dinamika ekonomi yang tidak menentu (Pakpahan et al., 2023).

Dukungan lembaga keuangan syariah dan kemudahan akses digital semakin mempermudah mahasiswa memantau pergerakan harga emas secara real time serta melakukan transaksi secara efisien tanpa keterbatasan ruang dan waktu (Muin et al., 2022; Pakpahan et al., 2023). Dengan kombinasi literasi keuangan, dukungan institusi, dan kemudahan akses digital, mahasiswa dapat membangun kebiasaan menabung emas secara disiplin, meningkatkan kesadaran akan pentingnya diversifikasi aset, serta membentuk ketahanan finansial yang lebih kuat dalam menghadapi tantangan ekonomi di masa depan (Agustin et al., 2023).

Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan, urgensi literasi keuangan mahasiswa dalam menghadapi inflasi dan krisis ekonomi tidak dapat dipisahkan dari keterkaitan antara pendapatan, tingkat literasi keuangan, dan persepsi risiko. Ketiga faktor tersebut membentuk dasar pengambilan keputusan investasi yang bersifat adaptif terhadap dinamika ekonomi yang fluktuatif. Mahasiswa yang mampu memahami kondisi finansial pribadi serta risiko ekonomi cenderung memiliki pola pengelolaan keuangan yang lebih terencana dan berorientasi jangka panjang. Pola tersebut menunjukkan bahwa keputusan investasi mahasiswa merupakan hasil dari proses penilaian multidimensional yang saling memengaruhi dan berkembang seiring pengalaman finansial yang dimiliki.

Literasi keuangan memiliki peran strategis dalam meningkatkan kualitas keputusan investasi mahasiswa, khususnya pada situasi ekonomi yang tidak stabil. Pemahaman terhadap pengelolaan anggaran, kebiasaan menabung, serta karakteristik instrumen investasi membantu mahasiswa bersikap lebih rasional dan terukur dalam menghadapi risiko. Tingkat literasi yang baik juga berfungsi sebagai mekanisme pengendalian terhadap perilaku spekulatif yang berpotensi merugikan, terutama pada periode inflasi dan ketidakpastian ekonomi. Penguatan literasi keuangan sejak dini berkontribusi dalam membentuk kesiapan mahasiswa menghadapi tantangan finansial pada fase kehidupan berikutnya.

Emas terbukti memiliki relevansi strategis sebagai aset lindung nilai di tengah tekanan inflasi dan volatilitas ekonomi. Karakteristik emas sebagai aset safe haven, likuid, serta tahan terhadap penurunan nilai uang menjadikannya instrumen investasi yang adaptif bagi mahasiswa dengan keterbatasan pendapatan dan toleransi risiko yang moderat. Peran emas tidak hanya berdampak pada stabilitas keuangan individu, tetapi juga berkontribusi terhadap ketahanan ekonomi secara lebih luas. Pemanfaatan emas sebagai bagian dari portofolio investasi mencerminkan pendekatan kehati-hatian dalam menjaga keberlanjutan daya beli jangka panjang.

Upaya menabung emas melalui dukungan literasi keuangan syariah, peran lembaga keuangan, serta pemanfaatan teknologi digital memperkuat akses dan kepercayaan mahasiswa terhadap investasi yang berkelanjutan. Kemudahan transaksi, transparansi mekanisme, dan prinsip syariah yang adil mendorong mahasiswa untuk membangun kebiasaan investasi secara disiplin.

Persepsi positif terhadap keamanan dan stabilitas emas semakin memperkuat minat mahasiswa dalam menjadikannya sebagai instrumen perencanaan keuangan jangka panjang. Strategi menabung emas secara keseluruhan berperan penting dalam membangun ketahanan finansial mahasiswa di tengah ketidakpastian ekonomi global yang terus berkembang.

Penulis: Dava Ahmad Maulana Afandi
S1 Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Malang

Editor: Bifanda Ariandhana, Tim BeritaKuliah.com