Pengaruh Konten Tiktok terhadap Eksistensi Bahasa Sunda di Kalangan Generasi Muda

Avatar photo
Pengaruh Konten Tiktok terhadap Eksistensi Bahasa Sunda di Kalangan Generasi Muda
Seorang pengguna gawai sedang mengakses aplikasi TikTok melalui perangkat telepon pintar.

BERITAKULIAH.COM, Malang — Transformasi komunikasi di era digital ditandai oleh pergeseran ruang interaksi dari ranah luring ke ranah daring. Media sosial kini tidak hanya menjadi sarana berbagi informasi, tetapi juga ruang sosial baru tempat identitas, budaya, dan bahasa dinegosiasikan. Bahasa tidak lagi dipahami semata sebagai alat komunikasi, melainkan juga sebagai simbol budaya yang terus berkembang seiring kemajuan teknologi.

TikTok menjadi salah satu platform yang paling populer di kalangan generasi muda. Karakteristiknya yang berbasis audio-visual singkat, mudah diakses, dan memiliki tingkat partisipasi tinggi menjadikan TikTok ruang strategis dalam membentuk praktik kebahasaan generasi muda. Bahasa yang digunakan dalam konten TikTok mencerminkan kreativitas sekaligus dinamika penggunaan bahasa di masyarakat digital.

Menariknya, penggunaan Bahasa Sunda dalam konten TikTok justru menunjukkan fenomena positif. Di tengah kekhawatiran akan memudarnya bahasa daerah akibat dominasi bahasa global, TikTok hadir sebagai ruang alternatif bagi Bahasa Sunda untuk tetap digunakan, ditampilkan, dan dikemas secara kreatif oleh generasi muda.

Konsumsi Konten TikTok dan Sikap Bahasa Generasi Muda

Paparan konten TikTok berbahasa Sunda berperan penting dalam membentuk sikap bahasa generasi muda. Sikap bahasa tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan terhadap bahasa, tetapi juga perasaan, penilaian, dan kecenderungan perilaku dalam menggunakannya. Ketika Bahasa Sunda muncul secara konsisten dalam konten yang populer, generasi muda cenderung mengembangkan sikap yang lebih positif terhadap bahasa tersebut.

Bahasa Sunda dalam konten TikTok umumnya disajikan secara santai, informal, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari remaja. Hal ini membuat Bahasa Sunda tidak lagi dipersepsikan sebagai bahasa yang kaku atau terbatas pada ranah tradisional, melainkan sebagai bahasa yang hidup, komunikatif, dan relevan dengan gaya komunikasi modern. Persepsi ini berkontribusi pada meningkatnya rasa percaya diri generasi muda untuk menggunakan Bahasa Sunda di ruang publik digital.

Keberulangan penggunaan Bahasa Sunda juga berfungsi sebagai proses normalisasi. Bahasa daerah yang sebelumnya dianggap kurang prestisius menjadi sesuatu yang wajar dan diterima dalam komunikasi digital. Melalui fitur komentar, duet, dan pembuatan konten ulang, Bahasa Sunda menyebar dengan cepat dan memperluas jangkauan penggunaannya di kalangan generasi muda.

Ekspresi Fatis dan Identitas Bahasa Sunda di Media Digital

Salah satu ciri khas penggunaan Bahasa Sunda di TikTok adalah kemunculan ekspresi fatis seperti atuh, weh, hadeuh, dan tah. Ekspresi ini berfungsi untuk menciptakan keakraban, menjaga hubungan sosial, serta mengekspresikan emosi dalam tuturan. Dalam konten TikTok, ekspresi fatis sering muncul dalam dialog humor, monolog santai, maupun sketsa keseharian.

Penggunaan ekspresi fatis menunjukkan bahwa praktik kebahasaan generasi muda masih berakar pada nilai lokal, meskipun berlangsung di ruang digital yang modern. Bahasa Sunda tidak hanya digunakan sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai penanda identitas budaya. Melalui ekspresi fatis, generasi muda menegaskan keanggotaan mereka dalam komunitas budaya Sunda sekaligus menampilkan identitas tersebut kepada audiens yang lebih luas.

Ekspresi fatis juga bersifat adaptif terhadap karakteristik TikTok yang menuntut penyampaian pesan secara singkat dan efektif. Unsur kebahasaan ini memperkuat makna tuturan tanpa memerlukan penjelasan panjang, sehingga selaras dengan format video pendek. Hal ini menunjukkan bahwa Bahasa Sunda bersifat dinamis dan mampu beradaptasi dengan perubahan medium komunikasi tanpa kehilangan nilai budayanya.

TikTok sebagai Ruang Pemertahanan Bahasa Sunda

TikTok dapat dipahami sebagai ruang pemertahanan sekaligus negosiasi Bahasa Sunda. Generasi muda tidak hanya menjadi konsumen konten, tetapi juga produsen yang aktif menciptakan dan menyebarkan konten berbahasa Sunda. Melalui kreativitas digital, Bahasa Sunda tidak sekadar dipertahankan, tetapi juga dinegosiasikan agar tetap relevan dengan konteks zaman.

Praktik campur kode antara Bahasa Sunda, Bahasa Indonesia, dan bahasa gaul juga menjadi ciri khas komunikasi generasi muda. Fenomena ini tidak selalu menandakan kemunduran bahasa daerah, melainkan menunjukkan fleksibilitas dan kreativitas linguistik. Bahasa Sunda tetap hadir sebagai penanda lokalitas, sementara unsur bahasa lain berfungsi sebagai penyesuaian terhadap konteks komunikasi digital.

Dengan demikian, TikTok tidak hanya menghadirkan tantangan bagi bahasa daerah, tetapi juga membuka peluang baru bagi pemertahanan dan revitalisasi Bahasa Sunda di era digital.

Pengaruh Konten Tiktok terhadap Eksistensi Bahasa Sunda di Kalangan Generasi Muda

Penulis: Hasya Qintara Indallah (202510170110033)
Mahasiswa S1 Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Malang

Editor: Bifanda Ariandhana, Tim BeritaKuliah.com