BERITAKULIAH.COM, Jakarta — Salah satu masalah di Indonesia yang belum sepenuhnya teratasi hingga saat ini adalah pengangguran. Di tengah pertumbuhan ekonomi dan semakin banyaknya lulusan setiap tahun, masih banyak masyarakat usia produktif yang belum memperoleh pekerjaan. Sehingga sebagian dari mereka yang terpaksa mencari peluang kerja lainnya yang tidak tetap asalkan mendapatkan uang misalnya menjadi konten creator. Kondisi ini menunjukkan bahwa pengangguran tidak hanya berkaitan dengan kemampuan individu, tetapi juga mencerminkan adanya kelemahan dalam sistem ketenagakerjaan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2025 tingkat pengangguran terbuka (TPT) berada pada kisaran 4,74% hingga 4,85% dari total angkatan kerja. Dengan jumlah angkatan kerja yang mencapai sekitar 155 juta orang, hal ini berarti terdapat kurang lebih 7,35 hingga 7,46 juta orang yang belum memiliki pekerjaan. Angka tersebut menjadi indikasi bahwa masalah pengangguran masih perlu mendapatkan perhatian yang serius.
Jika dilihat dari sisi individu, pengangguran sangat berkaitan dengan kesiapan seseorang dalam memasuki dunia kerja. Banyak pencari kerja yang belum memiliki keterampilan praktis yang sesuai dengan kebutuhan industri, seperti kemampuan di bidang digital, komunikasi, maupun pengalaman kerja. Dalam kondisi persaingan yang semakin ketat, kekurangan tersebut menjadi hambatan yang cukup besar. Selain itu, masih ada individu yang kurang fleksibel dalam memilih pekerjaan, dengan harapan dapat langsung memperoleh posisi dan gaji yang tinggi tanpa pengalaman, yang justru dapat memperpanjang masa menganggur.
Namun, persoalan ini tidak sepenuhnya dapat dibebankan kepada individu. Ada pula faktor sistem yang turut memengaruhi tingginya angka pengangguran. Salah satunya adalah ketidaksesuaian antara dunia pendidikan dengan kebutuhan industri. Kurikulum yang masih lebih menitikberatkan pada teori membuat banyak lulusan belum siap menghadapi tuntutan dunia kerja yang sesungguhnya. Di samping itu, jumlah lapangan pekerjaan yang tersedia juga belum mampu mengimbangi pertumbuhan jumlah tenaga kerja setiap tahunnya.
Ketimpangan wilayah juga menjadi faktor yang tidak kalah penting. Tingkat pengangguran di wilayah perkotaan yang mencapai sekitar 5,75% lebih tinggi dibandingkan dengan pedesaan yang berada di angka 3,47%. Hal ini menunjukkan bahwa distribusi kesempatan kerja masih belum merata. Selain itu, kelompok usia muda menjadi kelompok yang paling rentan mengalami pengangguran. Data menunjukkan bahwa usia 15-19 tahun memiliki tingkat pengangguran hingga 23,34%, sedangkan usia 20-24 tahun mencapai 14,35%. Tidak hanya itu, lulusan SMK juga tercatat memiliki tingkat pengangguran tertinggi, yaitu sekitar 8%, yang menunjukkan bahwa pendidikan belum sepenuhnya menjamin kesiapan untuk bekerja.
Untuk mengatasi permasalahan ini, diperlukan upaya yang menyeluruh dari berbagai pihak. Dari sisi individu, penting untuk terus mengembangkan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan zaman, terutama di bidang digital dan teknologi. Mengikuti pelatihan, kursus, atau sertifikasi dapat menjadi langkah yang efektif untuk meningkatkan daya saing. Selain itu, sikap terbuka dan fleksibel dalam memilih pekerjaan juga sangat diperlukan, karena pengalaman kerja sering kali menjadi langkah awal menuju peluang yang lebih baik. Membangun jaringan pertemanan atau relasi juga dapat membantu dalam memperoleh informasi pekerjaan. Selain itu, berwirausaha dapat menjadi pilihan alternatif untuk menciptakan peluang kerja secara mandiri.
Di sisi lain, peran pemerintah dan lembaga pendidikan juga sangat penting. Perlu adanya penyesuaian kurikulum agar lebih selaras dengan kebutuhan dunia kerja, sehingga lulusan memiliki kesiapan yang lebih baik. Program pelatihan kerja dan pendidikan vokasi juga perlu diperluas agar dapat menjangkau lebih banyak masyarakat. Pemerintah juga diharapkan mampu mendorong investasi serta mendukung perkembangan UMKM sebagai salah satu sumber utama penciptaan lapangan kerja. Selain itu, kerja sama antara pemerintah, dunia pendidikan, dan industri perlu diperkuat melalui program magang, pelatihan berbasis industri, serta pengembangan kewirausahaan.
Pada akhirnya, pengangguran merupakan permasalahan yang kompleks dan tidak hanya disebabkan oleh faktor individu, tetapi juga oleh sistem yang belum sepenuhnya mendukung. Dengan jumlah penganggur yang masih cukup besar, khususnya di kalangan usia muda, dibutuhkan langkah yang terintegrasi dan berkelanjutan. Apabila individu terus meningkatkan kemampuan dan sistem terus diperbaiki, maka peluang kerja akan semakin terbuka dan kesejahteraan masyarakat pun dapat meningkat.
Penulis: Kristina Nebo
Mahasiswi Universitas Kristen Indonesia, Program Studi Bimbingan Konseling













