Pendidikan di Persimpangan Jalan: Antara Kecanggihan AI dan Kemerosotan Literasi

Avatar photo
Pendidikan di Persimpangan Jalan: Antara Kecanggihan AI dan Kemerosotan Literasi
Terbuka di jendela baru Ilustrasi teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang kini merambah dunia pendidikan tinggi.

BERITAKULIAH.COM, Yogyakarta — Perkembangan era digital yang terus berkembang pesat telah menempatkan teknologi Artificial Intelligence (AI) sebagai salah satu inovasi terpenting yang mengubah berbagai sektor kehidupan, termasuk pendidikan. Di banyak negara industri, penggunaan AI telah memberikan hasil menggembirakan yang secara signifikan meningkatkan kualitas pengalaman belajar siswa serta efektivitas pengajaran. Namun, bagi Indonesia, kehadiran AI membawa dilema besar yang menuntut perhatian serius dari seluruh elemen pendidikan.

Peluang dan Kenyataan di Lapangan

Penerapan AI dalam pendidikan sejatinya menawarkan peluang luar biasa, seperti menciptakan sistem pembelajaran yang lebih ersonal dan efisiensi. AI dirancan umtuk membantu manusia melakukan tugas-tugas sesuai program, dimana mahasiswa dapat mencari informasi yang mereka butuhkan dengan cepat. Namun, pada kenyataannya sering kali berbanding terbalik. Seharusnya AI hanya dijadikan referensi tambahan, tetapi yang terjadi saat ini banyak mahasiswa justru menjadikannya sebagai sumber utama tanpa melakukan verifikasi melalui referensi-referensi ilmiah sebelumnya.

Banyak mahasiswa yang salah dalam menggunakan AI dalam proses pembelajaran. Berbagai platforms populer seperti ChatGPT, Perplexity, Gemini, dan Quillbot telah menjadi “sahabat dekat” dikalangan mahasiswa. Platform-platform ini memberikan kemudahan instan dalam mengerjakan tugas, mulai dari mereview buku dan jurnal, membuat laporan, hingga menyusun karya ilmiah. Kemudahan akses yang bisa digunakan kapan saja dan dimana saja ini memang menghemat waktu secara signifikan. Namun, efisiensi waktu ini sering kali harus dibayar mahal dengan hilangnya proses berpikir. Data dari Programme for International Student Assessment (PISA) tahun terbaru menunjukkan bahwa kemampuan siswa Indonesia dalam literasi, numerasi, dan sains masih berada di bawah rata-rata internasional (OECD, 2019).

Ancaman Ketergantungan dan Krisis Karakter

Salah satu dampak negatif yang paling nyata adalah munculnya ketergantungan yang akut terhadap teknologi. Ketergantungan ini membuat mahasiswa terlalu mengandalkan AI dalam memecahkan setiap masalah.dampak sistematiknya sangat mengkhawatirkan: mahasiswa cenderung mengurangi usaha untuk membaca, berpikir kritis, dan kreativitas mereka pun sangat menurun.

Katika mahasiswa lebih memilih jawaban instan dari AI dan mengesampingkan kemampuan berpikir kritisnya, mereka akan kehilangan esensi dari pendidikan iitu sendiri. Penggunaan yang berlebihaan tidak hanya menurunkan tingkat kreativitas, tetapi juga mematikan rasa ingin tahu terhadap proses pembelajaran. Selain itu, dampak negatif lainnya mencakup timbulnya rasa malas, penurunan interaksi sosial, hingga risiko keamanan seperti peretasan data. Pendidikann yang seharusnya memanusiakan manusia justru berisiko menciptakan generasi yang mekanis dan pasif.

Ironi Literasi di Tengah Kecanggihan Teknologi

Masalah ini menjadi semakin kompleks ketika melihat potret literasi di Indonesia. Berdasarkan dta UNESCO, Indonesia menempati urutan kedua dari bawah soal literasi dunia, yang berarti minat baca masyarakat sangat rendah. Angka yang dirilis sangat memprihatinkan, minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001%. Artinya, dari setiap 1.000 orang Indonesia, hanya satu orang yang rajin membaca.

Ini adalah sebuah ironi yang miris. Disatu sisi, kita memiliki akses teknologi tercanggih yang seharusnya memberikan peluang untuk mencari informasi luas dan mendalam. Namun, pada kenyataannya teknologi justru digunakan untuk memperinstan tugas kuliah tanpa melalui proses membaca dan menelaah. Indonesia sangat memerlukan generasi yang kritis, mau berusaha, giat, mempunyai wawasan luas, dan tingkat literasi yang tinggi untuk bersaing di masa depan.

Simpulan

Teknologi AI ibarat senjata makan tuan dalam dunia pendidikan. Ia bisa menjadi katalisator kemajuan jika digunakan dengan bijak sebagai alat bantu, namun bisa menjadi racun jika dijadikan pengganti kemampuan berpikir. Tantangan terbesar kita bukan terletak pada teknologinya, melainkan pada karakter manusianya. Pendidikan harus kembali ke fitrahnya: bukan hanya mengejar hasil akhir berupa tugas yang selesai tepat waktu, melainkan menghargai proses pencarian ilmu. Kita harus berupaya meningkatkan minat baca dan literasi agar kecanggihan teknologi dapat dikelola oleh pikiran-pikiran yang kritis, bukan dikendalikan oleh keinginan untuk serba instan.

Penulis: Lu’luil Munawiroh
Mahasiswa Semester 3, Fakultas Tarbiyah, Program Studi PAI, IIQ Annur Yogyakarta)

Editor: Bifanda Ariandhana, Tim BeritaKuliah.com