BERITAKULIAH.COM — Amazon telah menjadi salah satu perusahaan terkemuka di dunia. Amazon sendiri merupakan sebuah perusahan multinasional asal Amerika Serikat yang bergerak di bidang teknologi seperti e-commerce, cloud computing, streaming digital dan AI. Perusahaan ini dianggap sebagai “Big Five” dan memiliki kontribusi yang besar dalam perekonomian dan teknologi digital dunia saat ini. Dengan Visi “To be earth most customer-centric company: to build a place where people can come to find and discover anything they might want to buy online” menjadikan perusahaan ini berada di posisi ke-4 dalam hal kapitalisasi pasar global dan berhasil mengalahkan Google (Dilansir dari Companies Market Cap, 2025).
Sejarah Amazon sebagai Perusahaan Raksasa Global.
Amazon berawal dari sebuah toko buku daring bernama “Cadabra” yang didirikan oleh Jeff Bezos pada 5 Juli 1994 di garasi rumahnya yang terletak di Bellevue, Washington, Amerika Serikat. Beberapa bulan setelah berjalan dengan nama Cadabra, Bezos mengganti nama toko buku daringnya menjadi “Amazon” karena nama Cadabra dinilai kurang menarik. Nama Amazon sendiri terinspirasi dari sungai terbesar di dunia.
Seperti halnya perusahaan lain, Amazon juga mengalami banyak kerugian di awal penjualannya. Setelah terus mengalami kerugian di dua tahun pertama, pada tahun 1996 akhirnya Amazon mulai mengalami peningkatan penjualan yang awalnya $4,2 juta pada pertengahan tahun 1996 menjadi $8,5 juta pada akhir tahun 1996. Hal ini menjadi tanda positif karena Amazon mulai mampu mengurangi kerugian yang ada di awal penjualannya.
Setelah berhasil memperoleh laba pertama di tahun 2001, dan terus mengalami peningkatan laba di sepanjang awal tahun 2000-an, Amazon memperluas toko daringnya dengan mulai menjual berbagai produk dalam berbagai kategori seperti perangkat lunak, kebutuhan rumah, mainan, produk kecantikan, hingga produk fashion seperti pakaian, baju, sepatu, dll. Setelah mendapatkan laba yang cukup stabil Amazon meluncurkan “Amazon Prime” pada tahun 2005. Amazon Prime merupakan sebuah layanan pengiriman (two-days delivery) dengan biaya $79 per tahun. Layanan ini berangkat dari ketertarikan konsumen terhadap konsep belanja daring yang masih tergolong baru dan harga langganan yang masih terlalu mahal bagi beberapa orang, dengan menawarkan harga yang lebih murah Amazon Prime menarik banyak konsumen. Amazon Prime yang pada awalnya hanya menjadi “perjudian” bagi Bezos ternyata berhasil memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan perusahaan Amazon.
Tidak berhenti sampai disitu di tahun 2006 Amazon kembali memperkenalkan produk baru. Amazon masuk ke dalam dunia cloud computing dengan meluncurkan Amazon Web Services atau yang biasa disebut AWS. AWS sendiri merupakan sebuah platform komputasi awan (cloud computing) yang menyediakan lebih dari 200 layanan IT seperti penyimpanan data, komputasi, basis data (database), jaringan, pengembangan aplikasi, keamanan (cybersecurity), kecerdasan buatan, dan lainnya decara on-demand melalui internet. Amazon masih terus mengepakkan sayapnya hingga tahun-tahun berikutnya, dengan meluncurkan konten digital seperti e–book, film, musik melalui layanan seperti Kindle, Prime Video dan Amazon Musik. Amazon juga mengakusisi banyak perusahaan di berbagai bidang seperti IMDb, Whole Foods, Ring, Zoox, PillPack, Twicth Interative dan masih banyak lagi.
Perusahaan ini terus mengukir keberhasilan baru setiap tahunnya. Menurut laporan yang dikeluarkan oleh Perusahaan Amazon, Amazon berhasil mencatat pendapatan bersih sebanyak $638 milliar di tahun 2024 dimana mengalami peningkatan sebanyak 11% dari tahun 2023 menunjukan pertumbuhan yang semakin kuat di dunia internasional. Keberhasilannya beroperasi secara global di lima benua dan sekitar duapuluh negara antara lain Australia, Brazil, Kanada, Jepang, Mexico, Arab dll, memiliki situs web yang digunakan untuk menjual dan membeli barang memperkuat posisi Amazon sebagai perusahaan e-commerce raksasa dalam dunia global.
Amazon di Uni Eropa
Amazon pertama kali masuk ke Uni Eropa pada tahun 1998. Amazon telah beroperasi di berbagai negara Uni Eropa seperti Jerman, Perancis, Italia, dan Spanyol dengan jumlah kantor pusat sebanyak 60 di 60 kota. Uni Eropa berhasil meraih keuntungan signifikan dengan masuknya Amazon. Amazon merupakan investor penting Uni Eropa. Investasi yang dilakukan Amazon di Uni Eropa meliputi meliputi bidang infrastruktur cloud dan logistik, konektivitas satelit, cybersecurity dan teknologi baru seperti AI.
Dilansir dari Laporan yang dikeluarkan Amazon, sejak 2010 Amazon telah berinvestasi sebanyak €180 miliar dalam semua bisnisnya di seluruh Eropa. Amazon sangat memengaruhi ekonomi Uni Eropa secara signifikan. Hingga tahun 2024 Amazon berhasil membuka lapangan pekerjaan baru untuk 350.000 orang, dikatakan bahwa sekitar 50% orang yang dipekerjakan sebelumnya menganggur sebelum mereka bergabung dengan Amazon.
Selain itu, Amazon juga kerab membantu lebih dari 127.000 Usaha Kecil Menengah (UKM) di Eropa untuk menjual produknya secara global di toko Amazon pada tahun 2023. Hampir 14.000 UKM yang berjualan di toko berasal dari perdesaan, mereka berhasil mencapai penjualan lebih dari €3,8 miliar di tahun 2022. Salah satu produk dari perdesaan yang berhasil mendunia berkat Amazon adalah minyak zaitun ekstrak virgin Pago de Espejo dari Spanyol.
Amazon di Indonesia
Amazon hadir di Indonesia melalui Amazon Web Services (AWS) sejak tahun 2018 dengan membuka kantor pertamanya di Jakarta. Kemudian, AWS Asia Pasific (Jakarta) Region secara resmi diluncurkan di Indonesia pada Desember 2021. AWS mengumumkan komitmennnya untuk berinvestasi di Indonesia dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI) dan transformasi digital di Indonesia termasuk di sektor cloud computing, peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) lokal serta penguatan bidang digital perusahaan-perusahaan dalam negeri. Dilansir dari TEMPO.co hingga saat ini Amazon masih terus menanamkan investasinya di Indonesia sebesar $5 miliar atau sekitar Rp 84,3 Triliun. Investasi ini diperkirakan akan memberikan kontribusi sebesar Rp 172 Triliun terhadap PDB Indonesia.
Salah satu inisiatif utama Amazon adalah program in-communities. Program ini memiliki 4 aspek utama yaitu, pendidikan STEAM (Science, Technology, Engierning, Art, and Math), pengembangan keterampilan lokal, keberlanjutan, dan pembangunan sosial berbasis komunitas. Amazon telah merealisasikan programnya dengan memberikan pelatihan AI dan Machine Learning kepada 2.400 siswa dan guru di Jawa Barat, dalam program ini Amazon berkolaborasi dengan Kementerian Komunikasi dan Digital Indonesia (Komdigi). Kehadiran AWS di Indonesia juga diprediksi mampu menciptakan lapangan pekerjaan sebanyak 24.700 setiap tahunnya. Selain itu, kehadiran AWS di Indonesia juga mampu memberikan manfaat langsung terhadap perusahaan-perusahaan startup. Hingga saat ini tercatat sebanyak 1.700 perusahaan startup di Indonesia menggunakan layanan Amazon Web Services (AWS).
Lalu, Bagaimana Peluang Keuntungan Indonesia dengan Hadirnya Perusahaan Amazon?
Jika ingin membandingkan keuntungan yang diraih oleh Indonesia dengan keuntungan yang diraih oleh Uni Eropa dengan masuknya Amazon, tentu saja Indonesia masih tertinggal sangat jauh. Hal ini bisa dilihat dari penyebaran kantor Amazon yang ada di Uni Eropa yaitu sebanyak 60 kantor di 60 kota sedangkan Indonesia hanya memiliki satu kantor pusat yang berada di Jakarta. Selain itu, jenis operasi Amazon di Indonesia dengan di Uni Eropa juga sangat berbeda. Amazon di Indonesia hanya berfokus pada Amazon Web Services tentang layanan cloud computing belum ada layanan e-commerce seperti Amazon di Uni Eropa.
Tapi, tidak bisa dipungkiri jika Indonesia juga memiliki potensi keuntungan yang besar dengan hadirnya Amazon. Hal ini dikarenakan populasi Indonesia yang besar dan pertumbuhan ekonomi digital yang semakin hari semakin cepat. Namun, jika ingin mengejar keuntungan yang lebih besar lagi harus ada kerjasama antara Pemerintah dengan Perusahaan Amazon dibidang lainnya khususnya pada bidang e-commerce. Melihat keberhasilan Usaha Kecil Menegah (UKM) di Uni Eropa berhasil memasarkan produk-produk lokal mereka secara global, Indonesia memiliki potensi yang sama. Banyak produk-produk lokal berkualitas tinggi asal Indonesia yang sayangnya tidak dapat diperkenalkan kepada dunia internasional karena ketebatasan akses dan promosi secara global. Dengan menjalin kerjasama dengan layanan e-commerce raksasa seperti Amazon akan membuka banyak peluang bagi UKM Indonesia yang berda di kota maupun di pelosok perdesaan sekalipun untuk berjualan di pasar yang lebih luas dan mengglobal.
Untuk merealisasikan hal-hal tersebut diperlukan komitmen yang kuat. Indonesia perlu fokus membangun infrastruktur logistik, regulasi yang mendukung peningkatan SDM dan yang terpenting adalah penguatan ekosistem digital secara menyeluruh agar mampu mengakomodasi pertumbuhan bisnis digital berskala besar.

Penulis : Aulia Shandy Bayulangit, Mahasiswa Universitas Cenderawasih, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Program Studi Hubungan Internasional.













