BERITAKULIAH.COM, Jakarta – Di tengah arus modernitas yang kian kencang, persoalan bagaimana nilai-nilai luhur diwariskan menjadi diskursus krusial dalam dunia pendidikan Islam. Menjawab tantangan tersebut, rombongan Mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam 45 (UNISMA) Bekasi didampingi oleh Dosen Studi Integrasi Islam & Sains Bpk Dr. Dede Rubai Misbahul Alam, M. Pd juga Dosen Filsafat Ilmu Bpk Dr. Ahmad Annuri, MQ. MA. melaksanakan Kunjungan Studi dan Diskusi Akademik ke Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, pada Kamis, 8 Januari 2026.
Kegiatan yang berlangsung khidmat ini menghadirkan tokoh ulama sekaligus akademisi, Buya Dr. H. Risman Muchtar, M.Si. sebagai narasumber utama. Diskusi ini mengusung tema besar: Pewarisan Nilai: Implementasi 7 Prinsip Dasar Muhammadiyah dalam Dakwah, Pendidikan, dan Kaderisasi.
Dalam pemaparannya, Buya Risman Muchtar menekankan bahwa keberlangsungan sebuah organisasi atau institusi pendidikan tidak hanya bergantung pada fasilitas fisik, melainkan pada sejauh mana nilai-nilai dasarnya mampu “berpindah” ke generasi berikutnya secara utuh.
“Pewarisan nilai bukan sekadar ceramah di ruang kelas. Ia adalah proses internalisasi yang melibatkan keteladanan, sistem, dan penguatan ideologi,” ujar Buya Risman di hadapan para mahasiswa pascasarjana.
Inti dari diskusi akademik ini adalah membedah 7 Prinsip Dasar Muhammadiyah (dikenal sebagai Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah) sebagai instrumen strategis. Buya Risman menguraikan bagaimana ketujuh poin tersebut menjadi napas dalam tiga pilar utama:
1. Dakwah yang Mencerahkan: Dakwah tidak boleh kaku. Dengan prinsip tauhid yang murni, dakwah harus mampu menjawab masalah sosial kontemporer.
2. Pendidikan sebagai Laboratorium Nilai: Pendidikan bukan sekadar transfer ilmu (transfer of knowledge), melainkan transfer nilai (transfer of value). Mahasiswa UNISMA diajak melihat bagaimana amal usaha Muhammadiyah menjadi sarana pembentukan karakter.
3. Kaderisasi Berkelanjutan: Kaderisasi adalah jantung organisasi. Tanpa prinsip yang kuat, sebuah gerakan akan kehilangan identitasnya.
Antusiasme peserta terlihat saat sesi diskusi berlangsung. Para mahasiswa pascasarjana mengeksplorasi relevansi 7 prinsip tersebut dalam konteks manajerial dan kebijakan pendidikan di era digital. Diskusi ini membuka perspektif baru bahwa nilai-nilai Islam yang diletakkan oleh KH. Ahmad Dahlan tetap relevan dan bersifat melintasi zaman (trans-historical).
Ketua rombongan mahasiswa UNISMA Bekasi menyatakan bahwa kunjungan ini merupakan upaya nyata untuk menyelaraskan teori yang didapat di bangku kuliah dengan praktik nyata dari organisasi Islam modern terbesar di dunia.
Kunjungan ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk terus menjalin silaturahmi akademik. Diharapkan, sekembalinya dari kunjungan ini, para mahasiswa mampu mengaplikasikan filosofi “Pewarisan Nilai” tersebut dalam tesis, penelitian, maupun praktik profesional mereka di instansi masing-masing.
Pewarisan nilai mungkin merupakan tugas yang berat, namun dengan prinsip yang kokoh dan strategi yang tepat, ia akan menjadi fondasi bagi lahirnya generasi emas yang berintegritas.
Penulis: Ust. Ruston Nawawi S.Pd.I
Mahasiswa Pascasarjana Unisma Bekasi













