BERITAKULIAH.COM, Surabaya — Banyak organisasi sibuk bicara soal peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Dengan hanya sebatas memberikan pelatihan, menaikkan gaji, dan evaluasi. Padahal ada yang perlu diperhatikan selain itu semua, yaitu komunikasi internal yang buruk. Informasi tidak sampai, pesan disalahartikan bahkan nggak didengar, dan karyawan bekerja tanpa kejelasan. Tanpa komunikasi organisasi yang efektif, SDM akan lebih banyak mengalami miss komunikasi, punya rasa tidak dipercaya, dan sedikit untuk terlibat.
Akibatnya, pengembangan perusahaan bisa macet dan nama perusahaan bisa buruk. Nah, di sinilah peran komunikasi organisasi menjadi sangat dibutuhkan. Bukan hanya menyampaikan informasi, tapi membangun komunikasi interpersonal yang menjaga agar tujuan organisasi bisa sejalan dengan kebutuhan dan aspirasi para karyawan.
“Beberapa hal yang menjadi parameter sukses tidaknya sebuah usaha yaitu kinerja SDM, kinerja keuangan, kinerja operasi dan sebagainya.” Diungkapkan dalam (Riyadi et al., 2023)
Saya Devan Ersa Bachtiar, bakal mengupas bagaimana komunikasi organisasi bisa jadi meningkatkan SDM, dan memberikan kepercayaan dalam sebuah organisasi.
Sebelum lebih dalam, tahu nggak artinya komunikasi organisasi? Komunikasi organisasi itu sebuah proses penyampaian informasi, nilai, tujuan, dan kebijakan yang terjadi di dalam suatu organisasi, baik secara vertikal (atasan-bawahan), horizontal (antar pegawai), maupun diagonal (pegawai-atasan). Ini meliputi komunikasi formal seperti rapat dan evaluasi, serta komunikasi informal seperti diskusi sehari-hari.
Mengapa Komunikasi Organisasi penting dalam meningkatkan SDM? Karena apabila tidak adanya komunikasi, organisasi gak bakal bisa berjalan, simpelnya kalau ada masalah masa diselesaikan sendiri? Nggak lapor ke yang punya wewenang? SDM itu tidak berkembang hanya karena kemampuan aja, tetapi dia bisa berkembang kalau tahu apa yang mau diharapin, mengerti sepenting apa pekerjaan mereka, dan saat kontribusinya diakui. Tanpa komunikasi yang jelas, karyawan bisa kehilangan motivasi, salah arah, dan nggak mau buat inisiatif. Dengan membangun komunikasi yang baik, bisa meningkatkan sikap, semangat kerja, dan rasa memiliki dalam organisasi.
Komunikasi dalam organisasi bukan tugas ketuanya saja, tetapi juga tugas untuk semua anggota bisa sebagai komunikator atau komunikan. Tetapi, tetap pemimpin harus bisa menentukan arah, dan cari kenyamanan di lingkungan kerja. Seperti mencari kenyamanan pada saat di ruang rapat, ataupun ruang kerja disaat jam istirahat kerja. Sekaligus dalam grup WhatsApp.
Komunikasi agar bisa efektif dengan cara dibangun dan dilakukan secara konsisten mulai dari perencanaan, pelaksanaan, sampai evaluasi. Dengan membuka ruang umpan balik. Karyawan didorong untuk bertanya, menyampaikan ide, dan mengkritik yang bisa membangun organisasi itu sendiri. Dari situ, pembelajaran terjadi, kepercayaan tumbuh, dan kapasitas SDM akan meningkat.
Komunikasi dua arah sangatlah penting dalam membangun relasi yang baik. Para manajer dan pimpinan harus bekerja sama mengkomunikasikan seluruhnya ten- tang rencana dan garis besar kebijaksanaan organisasi secara terbuka, jujur dan dengan cara yang bebas dan harus bersedia mendengarkan dan memberi dorongan kepada karyawannya secara tulus dan terbuka. Dikemukakan oleh (Febri Rahmanto, 2004)
Intinya peran komunikasi organisasi itu bukan cuman tentang bagaimana komunikasi itu bisa terjadi, tapi bagaimana pesan itu bisa tersampaikan, didengar, dan diperbaiki. Dengan konsistensi dan evaluasi menumbuhkan mutu SDM dalam organisasi kita sendiri. Dengan membangun komunikasi yang baik, bisa meningkatkan sikap, semangat kerja, dan rasa memiliki dalam organisasi. Dan perlu diperhatikan juga apabila semua anggota organisasi bisa menjadi komunikator, tidak harus selalu pimpinan saja yang bertanggung jawab di sana.
Referensi:
- Febri Rahmanto, A. (2004). Peranan Komunikasi Dalam Suatu Organisasi. Jurnal Komunikologi , 1(2), 59.
- Riyadi, R., Munawar, A., & Keuangan, L. (2023). Pendampingan Pelatihan Dasar- Dasar Laporan Keuangan. 3(2), 1–8.
Penulis: Devan Ersa Bachtiar (1152400017)
Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Dosen Pengampu Komunikasi Organisasi: Widiyatmo Ekoputro, M.A.
Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tugas EAS DRS.













