Berita  

Mahasiswa UNY Laksanakan Program SDGs, Kenalkan Ekosistem Daratan dan Penanganan Perubahan Iklim di TK ABA Nganyang, Piyungan, Bantul

Avatar photo
Mahasiswa UNY Laksanakan Program SDGs, Kenalkan Ekosistem Daratan dan Penanganan Perubahan Iklim di TK ABA Nganyang, Piyungan, Bantul
Mahasiswa PGPAUD UNY berfoto bersama anak-anak TK ABA Nganyang di area sekolah yang dihiasi tanaman. Kegiatan ini adalah aksi peduli lingkungan yang berfokus pada menanam tanaman penyerap polutan seperti lidah buaya dan lidah mertua, sebagai implementasi SDGs (Penanganan Perubahan Iklim dan Ekosistem Daratan) untuk menanamkan kesadaran lingkungan dan keberlanjutan sejak usia dini.

BERITAKULIAH.COM, BantulMahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) program studi PGPAUD melaksanakan program praktik/pendampingan pendidikan di TK ABA Nganyang dengan menginisiasi kegiatan aksi peduli lingkungan sebagai implementasi Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 13 (Penanganan Perubahan Iklim) dan SDGs 15 (Ekosistem Daratan). Kegiatan ini bertujuan menanamkan kesadaran lingkungan sejak usia dini, khususnya dalam menjaga kualitas udara dan mengurangi dampak perubahan iklim melalui aktivitas edukatif dan aplikatif.

Mahasiswa UNY Laksanakan Program SDGs, Kenalkan Ekosistem Daratan dan Penanganan Perubahan Iklim di TK ABA Nganyang, Piyungan, Bantul
Praktik Anak Menanam Tanaman.

Pelaksanaan kegiatan menanam tanaman lidah buaya dan lidah mertua di area sekolah dipilih karena dikenal memiliki kemampuan dalam menyerap polutan udara, meningkatkan kualitas oksigen, serta mudah dirawat oleh anak-anak. Dalam pelaksanaannya, kegiatan dimulai dengan mahasiswa memberikan penjelasan dan pengenalan konsep dasar mengenai pentingnya menjaga ekosistem daratan dan dampaknya terhadap perubahan iklim, seperti polusi udara, penyebab meningkatnya karbon di atmosfer, serta peran tanaman dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Anak-anak juga diajak berdiskusi ringan mengenai kebiasaan-kebiasaan kecil yang bisa mereka lakukan untuk menjaga kebersihan lingkungan.

Sebelum proses menanam dilakukan, anak dikenalkan dengan alat dan media tanam, demonstrasi cara menempatkan bibit, hingga praktik langsung menanam. Anak-anak dalam praktiknya terlihat sangat antusias, bahkan beberapa di antaranya mulai memberi nama pada tanaman yang mereka tanam sebagai bentuk kepedulian dan rasa memiliki.

Program edukasi lingkungan di TK ABA Nganyang ini tidak hanya memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai tanggung jawab, kepedulian, dan keberlanjutan kepada anak sejak usia dini. Melalui pengalaman langsung di lapangan, anak-anak tidak hanya belajar tentang teori menjaga lingkungan, tetapi juga mempraktikkan langkah konkret untuk mengurangi polusi, serta menjaga ekosistem daratan. Program ini menjadi langkah kecil namun berarti dalam membangun kesadaran kolektif menghadapi tantangan perubahan iklim dan kerusakan ekosistem.

“Kegiatan ini sangat mendukung pelaksanaan “Program Adiwiyata” di sekolah kami. Adanya ajakan menanam tanaman penyerap polutan, anak-anak belajar menjaga bumi sejak dini. Kami berharap kerjasama dengan mahasiswa UNY ini terus berlanjut untuk memperkuat pendidikan lingkungan di TK ABA Nganyang,” ujar Ibu Purwanti.

Pihak sekolah berharap, melalui kegiatan ini, anak-anak dapat menumbuhkan kebiasaan positif dalam menjaga lingkungan serta menjadi generasi yang lebih sadar akan pentingnya menghadapi tantangan perubahan iklim di masa mendatang. Dengan menanamkan kesadaran ekologis sejak usia dini, anak-anak diharapkan tumbuh sebagai generasi yang lebih peduli terhadap kelestarian alam dan memiliki pola hidup ramah lingkungan.

Tidak hanya fokus pada penghijauan berupa penanaman lidah mertua dan lidah buaya, tetapi kegiatan ini juga dilengkapi dengan praktik pengelolaan sampah organik melalui pembuatan kompos sederhana. Sampah rumah tangga berupa sisa makanan, sementara sampah organik berupa kulit buah, sisa sayuran, dan daun kering yang dibuang ke tempat pembuangan akhir akan membusuk tanpa udara dan menghasilkan gas metana (CH₄). Gas ini merupakan salah satu gas rumah kaca yang memiliki kemampuan memerangkap panas 25 kali lebih kuat dibandingkan karbon dioksida (CO₂).

Pada Minggu, 26 Oktober 2025, para mahasiswa melakukan kunjungan ke rumah salah satu anggota kelompok belajar yang telah menyiapkan area khusus untuk pendampingan. Di sana, anggota kelompok menyiapkan berbagai jenis sampah rumah tangga seperti kulit buah, potongan sayur, dan dedaunan kering yang dapat diolah menjadi kompos. Mereka belajar mencampur bahan organik, menambahkan tanah, serta memahami proses penguraian secara alami. Pembuatan kompos menggunakan bahan seperti galon bekas bisa menjadi salah satu alternatif tempat pembuatan kompos yang mudah ditemukan.

Editor: Bifanda Ariandhana, Tim BeritaKuliah.com