Grobogan, 23 Juli 2025 – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro yang tergabung dalam Kelompok 4 KKN-T IDBU 69 melaksanakan program kerja bertajuk “Pemanfaatan Sekam Padi Menjadi Batako Ramah Lingkungan” di Desa Sugihmanik, Kecamatan Tanggungharjo, Kabupaten Grobogan.
Program ini bertujuan memperkenalkan inovasi pemanfaatan limbah pertanian berupa sekam padi sebagai bahan bangunan alternatif yang ramah lingkungan dan bernilai ekonomis. Limbah sekam padi berasal dari UKM tahu yang menggunakan sekam padi sebagai bahan bakar selama proses produksi. Limbah sekam padi yang selama ini kurang dimanfaatkan, diolah bersama bahan-bahan lain seperti pasir, semen, dan air, lalu dicetak menggunakan cetakan batako manual dan dikeringkan selama kurang lebih 24 jam.
Kegiatan ini melibatkan 10 orang mahasiswa dari Kelompok 4 di bawah bimbingan Prof. Sri Hartini, ST., MT. Mahasiswa merancang dan melaksanakan proses produksi batako secara mandiri, mulai dari pencampuran bahan hingga pencetakan. Sebanyak 8 buah batako berhasil dicetak dalam tahap awal sebagai bahan uji coba. Kegiatan ini juga didokumentasikan sebagai bahan edukasi dan referensi pengembangan ke depannya.
Salah satu anggota tim, Keumala Tarie Phonna, mengatakan bahwa kegiatan ini bukan sekadar praktik teknis, tetapi juga bentuk kontribusi terhadap isu lingkungan dan pembangunan desa.
“Selama ini abu sekam padi sering dianggap limbah biasa. Padahal, jika dikelola dengan benar, bisa jadi bahan bangunan alternatif yang murah dan cukup kuat. Kami ingin masyarakat tahu bahwa limbah pun bisa punya nilai guna,” ujar Keumala, mahasiswi Teknik Sipil Undip.
Batako hasil kegiatan ini rencananya akan diuji di Laboratorium Teknik Sipil Universitas Diponegoro untuk mengukur kuat tekan dan daya serap air sebagai indikator kelayakan teknis. Hasil uji akan menjadi dasar pertimbangan untuk potensi pengembangan lebih lanjut di masyarakat.
Mahesa Saddam, salah satu mahasiswa yang terlibat dalam proses produksi, menjelaskan pentingnya kegiatan ini sebagai bentuk riset lapangan yang nyata.
“Kami ingin menunjukkan bahwa inovasi sederhana bisa dilakukan dengan memanfaatkan potensi lokal. Sekam padi sangat melimpah di desa ini, dan sayang kalau tidak dimanfaatkan secara optimal,” ucap Mahesa Saddam.
Sementara itu, Dewi Maharani turut menekankan potensi sosial dari kegiatan ini.
“Kalau hasil uji batako ini memadai, kami akan mengajak warga untuk memproduksi bersama. Bisa jadi alternatif usaha kecil, apalagi bahan bakunya mudah didapat,” ujar Dewi Maharani.
Kegiatan ini turut mendapat tanggapan positif dari warga setempat. Bu Yayuk, salah satu warga RW 03 yang turut menyaksikan proses pencetakan batako, menyampaikan antusiasmenya.
“Saya baru tahu ternyata sekam padi bisa jadi bahan bangunan. Kalau kuat dan tahan lama, bisa jadi pilihan bagus buat bangunan di desa,” ujar Bu Yayuk.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN berharap dapat menginspirasi warga untuk mengolah limbah pertanian menjadi produk yang lebih bermanfaat dan turut mendukung pembangunan berkelanjutan di tingkat desa.













