Jeriko Silalahi dan Upaya Menghadirkan Kapal Nelayan Tanpa Awak untuk Laut Indonesia.

Avatar photo
Foto Berita Kuliah
Foto jeriko silalahi

Keselamatan Nelayan dan Tantangan Laut Indonesia

Ketertarikan Jeriko Silalahi pada riset kapal nelayan tanpa awak berangkat dari persoalan klasik yang hingga kini masih dihadapi sektor perikanan Indonesia, yakni tingginya risiko keselamatan nelayan saat melaut. Indonesia dikenal sebagai negara maritim dengan lebih dari dua pertiga wilayahnya berupa perairan, namun aktivitas penangkapan ikan masih banyak dilakukan dengan teknologi terbatas dan ketergantungan tinggi pada tenaga manusia.

Foto Jeriko Silalahi

Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), sebagian besar nelayan Indonesia masih tergolong nelayan kecil yang menggunakan kapal berukuran di bawah 10 GT. Kondisi ini membuat nelayan sangat rentan terhadap perubahan cuaca, gelombang tinggi, serta keterbatasan sistem navigasi dan komunikasi. Dalam banyak kasus, kecelakaan laut terjadi karena kelelahan, cuaca ekstrem, dan minimnya alat bantu keselamatan.

Selain itu, data dari berbagai laporan kebencanaan maritim menunjukkan bahwa insiden laut yang melibatkan nelayan kerap terjadi pada waktu-waktu rawan, seperti keberangkatan dini hari dan kepulangan malam hari. Situasi ini menjadi perhatian serius Jeriko, yang menilai bahwa keselamatan nelayan tidak bisa terus bergantung pada pengalaman semata, tetapi perlu didukung oleh inovasi teknologi yang adaptif dan terjangkau.

“Nelayan kita bekerja dalam kondisi yang sangat berat. Berangkat subuh, pulang malam, menghadapi cuaca yang tidak bisa diprediksi, sementara teknologi keselamatan masih terbatas. Dari situlah saya mulai berpikir, bagaimana teknologi perkapalan bisa benar-benar hadir untuk melindungi mereka,” menjadi salah satu refleksi yang melatarbelakangi riset tersebut.

Jeriko kemudian melihat perkembangan teknologi kapal tanpa awak yang mulai diterapkan di sektor pertahanan dan industri sebagai peluang yang dapat diadaptasi untuk kepentingan perikanan. Namun, berbeda dengan kapal otonom berskala besar, ia memilih fokus pada kapal nelayan yang sederhana, efisien, dan sesuai dengan karakteristik perairan Indonesia, agar inovasi ini tidak hanya berhenti sebagai konsep, tetapi dapat diterapkan di lapangan.

Untuk memastikan relevansi risetnya, Jeriko mendirikan workshop riset dan melakukan uji coba langsung bersama nelayan di Kabupaten Siak. Wilayah ini dipilih karena memiliki aktivitas perikanan yang aktif, sekaligus merepresentasikan kondisi nelayan pesisir yang masih mengandalkan metode konvensional. Melalui uji coba tersebut, Jeriko mengumpulkan data operasional, pola kerja nelayan, serta respons pengguna terhadap teknologi kapal tanpa awak.

Hasil awal menunjukkan bahwa sistem kapal tanpa awak mampu mengurangi waktu paparan risiko nelayan di laut dan memberikan fleksibilitas operasional yang lebih tinggi. Nelayan dapat memantau aktivitas kapal, posisi, serta hasil tangkapan dari darat melalui sistem kendali jarak jauh. Pendekatan ini dinilai berpotensi menekan risiko kecelakaan sekaligus meningkatkan efisiensi kerja nelayan.

Bagi Jeriko, riset ini bukan sekadar pengembangan teknologi, melainkan bagian dari tanggung jawab keilmuan. Ia meyakini bahwa inovasi maritim harus berangkat dari persoalan nyata di lapangan. “Jika inovasi dapat memperbaiki bangsa ini, maka saya akan selalu berinovasi untuk bangsa ini,” tegasnya.

Melalui riset kapal nelayan tanpa awak, Jeriko Silalahi berupaya membuktikan bahwa teknologi dapat menjadi alat perlindungan dan pemberdayaan nelayan. Di tengah tantangan laut Indonesia yang semakin kompleks, pendekatan berbasis riset dan empati ini diharapkan mampu membuka arah baru bagi keselamatan dan keberlanjutan sektor perikanan nasional.

Editor: Bifanda Ariandhana, Tim BeritaKuliah.com