BERITAKULIAH.COM, Jakarta — Di era digital ini, Televisi dan media massa sering dipandang sebagai sumber informasi utama. Dari berita pagi yang menyapa kita di meja makan hingga update real-time di aplikasi berita. Namun, Dibalik layar berita sering kali dimanfaatkan oleh penguasa untuk mengalihkan perhatian dari kesalahan mereka.
Mulai dari skandal korupsi yang melibatkan dana publik hingga pelanggaran hak asasi manusia, manipulasi ini bukan sekedar kebetulan belaka melainkan strategi yang terencana untuk mempertahankan kekuasaan.
Saat Masyarakat mulai mempertanyakan kebijakan pemerintah yang gagal, media tiba tiba dipenuhi dengan berita ringan tentang selebriti atau isu hiburan. Ini merupakan taktik klasik yang telah digunakan sejak zaman propaganda lama.
Penguasa, baik ditingkat nasional maupun internasional memanfaatkan kontrol atas narasi untuk membentuk persepsi publik, sehingga kesalahan terlihat sebagai pengorbanan demi kepentingan Bersama atau bahkan disalahkan pada pihak lain.
Teknik-teknik ini tidak hanya merusak kepercayaan Masyarakat terhadap media, tetapi juga mengancam fondasi demokrasi.
Mekanisme Manipulasi Berita
Penguasa sering mengontrol narasi melalui beberapa cara utama yang memungkinkan mereka memilih topik yang menguntungkan, seperti berita positif tentang Pembangunan infrastruktur, sambil menyembunyikan sebuah skandal. Misalnya, berita tentang kesuksesan program pemerintah bisa di framing sebagai “prestasi sosial” untuk menutupi kegagalan dalam penanganan pandemia atau korupsi.
Di banyak negara, pemilik media memiliki hubungan erat dengan elit politik. Subsidi pemerintah atau ancaman regulasi dapat memaksa outlet berita untuk menghindari kritik.
Contoh Kasus Nyata
Di Indonesia sendiri, kasus skandal tunjangan DPR yang melibatkan dugaan penyelewengan dana ditutupi dengan berita sensasional tentang perceraian pesepak bola Indonesia Arhan Pratama dan istrinya Azizah Salsha. Pada pertengahan 2025, saat berita tenteng skandal korupsi DPR mendominasi ruang publik, media Televisi dan Online tiba tiba membanjiri tayangan dengan detail perceraian Arhan Zize, termasuk drama pribadi dan gossip selebriti.
Hal ini mengalihkan perhatian dari tuduhan penyelewengan dana anggota DPR, seperti kasus yang terkait dengan proyek infrastruktur dan bantuan sosial. Teknik ini mirip dengan distraction tactic Dimana isu ringan digunakan untuk menenggelamkan berita penting, sehingga publik fokus pada hiburan daripada akuntabilitas penguasa.
Berita bukan lagi cermin realitas, melainkan alat untuk menutupi kesalahan penguasa. Untuk mencegahnya, diperlukan reformasi hukum media seperti undang undang yang melindungi jurnalis independent. Masyarakat harus di didik untuk mem-verifikasi sumber melalui literasi digital, dan mendukung jurnalisme investigasi. Hanya dengan kebebasan pers yang sejati, demokrasi dapat bertahan. Mari kita jadikan media sebagai pengawas, bukan pelindung kekuasaan.
Penulis : Zahwa Nurul Azizah
Mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Muhammadiyah Jakarta













