BERITAKULIAH.COM, KARANGANYAR — Di kaki Gunung Lawu, tepatnya di Desa Berjo, Karanganyar, melimpahnya panen wortel seringkali menyisakan dilema: sebagian hasil panen tidak lolos sortir dan berpotensi menjadi limbah. Namun, masalah ini kini berpotensi menjadi berkah.
Minggu (13/7), mahasiswa KKN-T Tim 147 Universitas Diponegoro menghadirkan solusi cerdas, mengajak Karang Taruna Dusun Gemah untuk menyulap wortel-wortel “afkir” ini menjadi keripik renyah bernilai ekonomis tinggi, membuka peluang usaha baru bagi pemuda desa.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program multidisiplin bertema “SmartHeat: Optimalisasi Proses Termal Limbah Pasca panen Menjadi Produk Bernilai Ekonomi.”
Program ini berangkat dari fakta bahwa Desa Berjo sebagai salah satu sentra hortikultura di lereng Gunung Lawu menghasilkan wortel dalam jumlah besar. Namun, sebagian hasil panen tidak lolos sortir pasar karena bentuk dan ukuran yang tidak standar, sehingga berpotensi menjadi limbah yang terbuang sia-sia.
Dengan antusiasme tinggi, mahasiswa KKN memperkenalkan solusi sederhana namun efektif: mengolah wortel sortiran tersebut menjadi keripik wortel. Mereka tidak hanya menyampaikan teori, tetapi juga membawa sampel keripik wortel yang sudah jadi, lengkap dengan kemasannya. Produk contoh ini segera menarik perhatian peserta, memicu imajinasi mereka tentang potensi usaha rumahan.
Dalam sesi penyuluhan, mahasiswa dengan lugas menjelaskan prinsip dasar fisika panas yang krusial dalam pembuatan keripik. Mereka menekankan pentingnya menjaga suhu penggorengan tetap stabil, bagaimana menyesuaikan tingkat api, serta trik mudah mengenali minyak yang sudah optimal panasnya—misalnya, ketika adonan kecil langsung mengapung dan mengeluarkan gelembung halus. Penjelasan ini dirancang agar mudah dipahami dan langsung dapat dipraktikkan oleh para anggota Karang Taruna.
Respons Karang Taruna Dusun Gemah sangat positif dan penuh rasa ingin tahu. Produk keripik yang diperlihatkan disambut dengan antusiasme tinggi. Sesi tanya jawab pun berlangsung interaktif. Para pemuda desa banyak mengajukan pertanyaan praktis, seperti cara menguji suhu penggorengan tanpa termometer, teknik penyimpanan agar keripik tetap renyah tahan lama, hingga estimasi waktu penggorengan ideal untuk adonan tipis.
Pertanyaan-pertanyaan detail ini menunjukkan ketertarikan nyata dan serius dari Karang Taruna terhadap peluang usaha kecil berbasis komoditas lokal yang telah mereka lihat.
Untuk menjamin keberlanjutan program, mahasiswa KKN turut membagikan buku panduan komprehensif. Buku ini tak hanya berisi materi penyuluhan dan resep detail keripik wortel skala rumahan, tetapi juga tips-tips teknis sederhana yang mudah diterapkan.
Dengan adanya panduan praktis ini, diharapkan masyarakat, khususnya anggota Karang Taruna, dapat secara mandiri mulai mengembangkan pengolahan produk pangan berbasis limbah pasca panen ini. Antusiasme terhadap program ini tergambar jelas dalam pernyataan Ketua Karang Taruna Dusun Gemah, yang menyampaikan, “Kami berterima kasih atas inisiatif kakak-kakak KKN. Ini bekal penting bagi kami untuk mengembangkan produk dan memutar roda keuangan karang taruna Gemah ke depan.”
Inisiatif ini bukan hanya tentang keripik, melainkan tentang menciptakan kemandirian ekonomi dan nilai tambah dari potensi lokal yang selama ini belum banyak dikembangkan.
Penulis:
– Ericka Puji Astuti, Prodi Fisika, Fakultas Sains dan Matematika
– Laluna Yulizar Faisa Raharjo, Prodi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat













