BERITAKULIAH.COM, Papua — Papua New Guinea (PNG) merupakan sebuah negara yang terletak di bagian timur pulau Papua dengan ibu kota Port Moresby. Negara ini memiliki budaya yang sangat beragam dengan lebih dari 800 bahasa. Papua New Guinea memiliki peluang yang besar di kawasan Pasifik, sumber daya yang melimpah di sektor pertanian, pertambangan, minyak dan gas berpotensial untuk diekspor ke pasar global.
Selain sumber daya alam yang berlimpah, letak negara yang strategis, menjadikannya titik kunci untuk memperkuat konektivitas perdagangan dan investasi diantara benua Asia dan Pasifik. Tetapi, berbanding terbalik dengan kekayaan alam yang berlimpah kondisi infrastruktur di negara ini menghadapi tantangan yang serius, PNG tidak memiliki infrastruktur yang memadai untuk menunjang perekonomian dan kehidupan masyarakat padahal peluang yang mereka miliki sangat besar.
Hal ini membuat China tidak ingin melewatkaan peluang besar untuk melebarkan pengaruhnya di Pasifik melalui Belt and Road Initiative. China telah menggandeng PNG sejak 2018 untuk bergabung kedalam program andalannya yaitu program BRI. BRI sendiri adalah sebuah kebijakan yang dikeluarkan oleh Xi Jinping pada tahun 2013, program ini merupakan investasi jangka panjang lintas benua yang bertujuan untuk membangun infrastruktur global dan membangun konektivitas antar benua.
Kerjasama PNG-China Dibawah Belt and Road Initiative.
Pada Juni 2018 PM Peter O’Neil beberkunjung ke Beijing untuk mendapatkan dukungan dari China terutama dalam rangka menjadi tuan rumah forum APEC 2018. Sebagai bagian dari kerjasama BRI, China berkomitmen untuk membantu pembangunan jalan dan fasilitas pendukung APEC serta penguatan hubungan ekonomi melalui investasi dan proyek-proyek infrastruktur. Salah satu proyek andalan BRI di PNG adalah High Priority Economic Roads Project. Independence Boulevard adalah salah satu proyek jalan yang sudah direalisasikan, proyek jalan senilai $4,1 MILIAR USD yang dikerjakan oleh China Harbour Engineering Company berhasil menghubungkan bandara dengan pusat bisnis di Ibu kota Port Moresby.
Namun, Apa BRI Benar-benar Menjadi Peluang Pembangunan Untuk PNG?
BRI menjadi peluang besar sekaligus tantangan bagi PNG. Kerjasama ini berpotensi memberikan dorongan bagi pertumbuhan ekonomi PNG dengan meningkatkan konektivitas wilayah dan akses ke pasar global. High Priority Economic Roads Project menunjukan komitmen China dalam mendukung pengembangan ekonomi di PNG. Investasi yang diberikan China seperti dana, teknologi dan peluang kerja bagi penduduk lokal mempercepat moderenisasi dan pertumbuhan ekonomi PNG.
Namun, disisi lain kerja sama ini memiliki risiko jebakan utang. Seperti yang diketahui PNG memiliki masalah korupsi yang cukup serius. Korupsi di sektor publik PNG sangat berdampak bagi pembangunan dan kemajuan ekonomi di negara tersebut, hal ini berpotensi memperburuk pengelolaan dana pinjaman dari China.
Pinjaman besar dari program BRI masuk dalam utang luar negeri PNG, tercatat pada tahun 2024 utang PNG kepada China mencapai US$ 1,2 juta (sumber: CNN Indonesia). Ketergantungan pada pinjaman ini dapat menimbulkan beban pembayaran yang nantinya akan memberatkan jika tidak dikelola dengan transparan. Selain itu, praktik korupsi juga dapat menyebabkan penyalahgunaan dana pembangunan dan mengurangi manfaat nyata yang seharusnya diterima oleh masyarakat PNG.
Untuk mencapai keberhasilan BRI di PNG penulis beropini pemerintah PNG harus menglola utang dengan hati-hati dan transparan. Penghelolaan utang harus disertai dengan pangawasan yang ketat dan transparansi dalam pembuatan serta pelaksanaan proyek agar tidak terjadi penyalahgunaan dana.
Pemerintah juga harus memastikan bahwa pinjaman benar-benar digunakan untuk proyek pembangunan yang mampu memberikan manfaat jangka panjang bagi perekonomian nasional dan masyarakat. Pemerintah juga harus memperkuat komitmen pemberantasan korupsi agar dana pembangunan pendanaan itu tidak dialihkan ke dalam praktik korupsi, yang selama ini menjadi salah satu hambatan utama dalam pembangunan di PNG. Dengan pengelolaan utang yang baik, serta perencanaan pembangunan yang matang, program BRI dapat menjadi peluang yang nyata untuk mendorong pembangunan ekonomi dan kemajuan sosial Papua New Guinea tanpa menjebak negara ini dalam lingkaran utang.

Penulis: Aulia Shandy Bayulangit, Mahasiswa Universitas Cenderawasih, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Program Studi Hubungan Internasional.













