BERITAKULIAH.COM, BATANG — Dalam upaya meningkatkan kesadaran tentang pemanfaatan limbah peternakan secara berkelanjutan, seorang mahasiswa Program Studi Bahasa Dan Kebudayaan Jepang dari Universitas Diponegoro (UNDIP), Fransiskus Eldorado Torganda Saragih, mengadakan program edukasi di Dusun Rembul, Kabupaten Batang.
Kegiatan yang dilaksanakan pada Jumat (18/7/2025) merupakan bagian dari program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim 50 dengan fokus menerapkan konsep Mottainai dari Jepang, yang berarti “sayang kalau dibuang,” untuk mengoptimalkan limbah peternakan secara maksimal
Belakangan ini, limbah peternakan seperti kotoran sapi dan ampas pakan sering dibuang begitu saja atau tidak dimanfaatkan secara maksimal. Hal ini tidak hanya mubazir tetapi juga dapat menimbulkan masalah lingkungan, seperti polusi udara dan pencemaran air. Padahal, limbah tersebut memiliki potensi besar untuk diolah menjadi produk bernilai, seperti pupuk organik, biogas, atau pakan ternak alternatif..
Program mahasiswa Eldo yang berjudul “Mottainai: Zero Waste Peternakan” bertujuan untuk memperkenalkan konsep pemanfaatan limbah secara menyeluruh, sesuai dengan filosofi Jepang yang menghargai setiap sumber daya. Konsep ini sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular, di mana limbah dianggap sebagai bahan baku baru yang dapat dimanfaatkan kembali.
Melalui presentasi dan diskusi interaktif, mahasiswa Eldo memperkenalkan beberapa teknik pengolahan limbah peternakan kepada warga, antara lain pembuatan pupuk organik dari kotoran sapi, produksi biogas sebagai sumber energi alternatif, serta pemanfaatan ampas tahu dan limbah pertanian sebagai pakan tambahan untuk ternak.
Program ini diharapkan dapat menginspirasi warga untuk mengadopsi kebiasaan “tidak ada yang terbuang” dalam kegiatan peternakan sehari-hari. Dengan demikian, selain meningkatkan efisiensi, warga juga turut berkontribusi pada kelestarian lingkungan.
Melalui inisiatif kecil ini, tim KKN Tim 50 berharap dapat mendorong perubahan positif dalam pengelolaan peternakan berkelanjutan di perdesaan khususnya di dusun Rembul, sekaligus memperkenalkan kearifan budaya Jepang yang relevan dengan kehidupan modern, dan dapat menerepkannya.













