BERITAKULIAH.COM, KAB. MALANG — Mahasiswa Membangun Desa Universitas Brawijaya 2025 (MMD UB 25) Kelompok 25 telah melakukan program kerja yang bertema “Desa Peduli Air Bersih Sejak Dini.” Kegiatan ini diselenggarakan selama dua hari berturut – turut pada tanggal 21-22 Juli 2025 di SDN 02 Jambesari, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang yang disasarkan langsung pada anak – anak kelas empat di sekolah tersebut.
Kegiatan ini merupakan bagian dari peningkatan pengetahuan dan kesadaran anak mengenai pentingnya menjaga lingkungan, bahaya pencemaran air, serta cara mudah mengatasi pencemaran melalui pola kehidupan sehari – hari dan pembuatan alat filtrasi air sederhana dari botol bekas.
Kegiatan ini berdasarkan ide dan gagasan dari Romeo Arfrin Anzalna selaku salah satu anggota dari kelompok 25 MMD UB dari Fakultas Hukum dengan arahan dan bimbingan dari Dosen Pembimbing Lapang Dr. Firman Jaya, S.Pt., M.P., yang melihat potensi desa dari kualitas anak – anak desa yang peduli sesama dan kondisi desa yang banyak dilewati Sungai dan mata air. Sayangnya, masih banyak penduduk desa yang kurang peduli tentang kondisi desa yang asri tersebut. Masih banyak penduduk desa yang mandi, mencuci baju, membuang sampah, hingga mencuci hewan ternak di Sungai, “Kak kemarin tetanggaku banyak yang cuci baju sama buang sampah di Sungai” ujar Aisyah salah satu murid kelas empat SDN 02 jambesari.
Kegiatan berlangsung selama dua hari berturut – turut yaitu pada tanggal 21 – 22 Juli 2025. Kegiatan ini bertujuan untuk mendukung SDGs ke 6 yaitu air bersih dan sanitasi layak desa. Pada hari pertama, dilakukan pembelajaran secara interaktif dengan materi “Pentingnya Menjaga Lingkungan dan Peduli Pencemaran Air.”
Pembelajaran dilakukan selama 60 menit dengan menekankan arti lingkungan, ruang lingkup, serta nyamannya lingkungan yang bersih. Materi selanjutnya disusul dengan penanaman pemahaman tentang penyebab, dampak, serta cara menangani pencemaran lingkungan di sekitar desa terutama pencemaran air.
Kedua materi ini disampaikan dengan menggunakan pembelajaran melalui video edukatif dan quiz menarik di dalam kelas sehingga menumbuhkan semangat siswa dalam belajar. Penyampaian materi ini diharapkan dapat menanamkan kesadaran siswa mengenai bahaya pencemaran air pada waktu mendatang dan memutus kebiasaan mengotori air Sungai pada desa saat ini.

Pada hari kedua adalah praktik pembuatan alat filtrasi air sederhana, sebelum melaksanakan praktik anak – anak diajak untuk mengulas ulang terlebih dahulu materi yang telah mereka dapat pada hari pertama dengan tujuan untuk memastikan bahwa pemahaman mereka benar – benar maksimal mengenai sadar lingkungan dan pencemaran air.
Pada saat awal praktik, yang dilakukan adalah memotong botol bekas yang sudah dibawa oleh siswa menjadi dua bagian, kemudian diisi dengan kapas, batu kerikil, zeolite, karbon aktif, dan pasir.
Siswa melakukan pengisian bahan filtrasi secara bertahap dengan urutan tiap satu bahan mereka wajib mencatat nama dan fungsi dari bahan filtrasi tersebut yang dipandu oleh Romeo pada papan tulis, hal ini bertujuan agar siswa tidak hanya praktik membuat alat filtrasi saja namun memahami fungsi dari masing masing bahan yang digunakan pada alat filtrasi tersebut.
“Desa Jambesari ini banyak sekali daerah yang dilalui oleh Sungai, dan juga beberapa mata air, namun masih banyak masyarakat yang menggunakan aliran Sungai tersebut untuk mandi, buang air, buang sampah, hingga mencuci kotoran hewan ternak sedangkan hampir semua Masyarakat sudah mempunyai bilik mandi di rumahnya masing – masing tetapi masih saja mandi di Sungai sedangkan air Sungai tersebut juga digunakan untuk mengairi area persawahan, rumah, hingga digunakan untuk kebutuhan rumah tangga. Hal ini sangat disayangkan karena minimnya kesadaran akan pencemaran air pada Masyarakat padahal air tersebut juga digunakan untuk kebutuhan rumah tangga mereka. Harapan saya menanamkan program ini terutama pada generasi muda desa adalah untuk memutus kebiasaan yang kurang baik tersebut guna memelihara kondisi air pada desa tetap jernih dan asri untuk jangka panjang, pembuatan alat filtrasi ini juga diimplementasikan pada kran air cuci tangan SDN 02 Jambesari sehingga bisa berdampak maksimal pada seluruh warga sekolah” ujar Romeo.
Kegiatan ini mendapat respon positif dari Guru SDN 02 Jambesari yang tampak sangat mendukung dari awal survei hingga pelaksanaan program kerja tersebut.
Tidak berhenti pada kegiatan ini, mahasiswa MMD UB 25 juga akan terus memonitoring siswa secara berkelanjutan pada saat program kerja selanjutnya dan berkolaborasi dengan sekolah untuk menjadikan hasil karya siswa berupa alat filtrasi air tersebut sebagai media belajar yang berkelanjutan dengan harapan tertanamnya sadar lingkungan pada seluruh generasi muda Desa Jambesari, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang.













