Mahasiswa KKN Kelompok 101 UPN Veteran Jatim Beri Pendampingan Pemasaran Digital kepada Toko Viva Al-Fazza di Kelurahan Kupang Krajan Surabaya

Avatar photo
Mahasiswa KKN Kelompok 101 UPN Veteran Jatim Beri Pendampingan Pemasaran Digital kepada Toko Viva Al-Fazza di Kelurahan Kupang Krajan Surabaya
Mahasiswa KKN Kelompok 101 UPN Veteran Jawa Timur berfoto bersama Riyanah, pemilik Toko Viva Al-Fazza, usai sesi pendampingan digitalisasi UMKM di Banyu Urip Lor, Surabaya. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya kolaboratif untuk memperkuat pemasaran produk unggulan Brownies Al-Fazza melalui strategi branding dan promosi digital.

BERITAKULIAH.COM, SURABAYA — Toko Viva Al-Fazza milik Riyanah, pelaku UMKM di Banyu Urip Lor, Kelurahan Kupang Krajan, Kecamatan Sawahan, Surabaya, mendapat pendampingan digitalisasi dari mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 101 UPN Veteran Jawa Timur pada 7–8 Juli 2025. Pendampingan ini dilakukan untuk membantu meningkatkan daya saing usaha di tengah tantangan era digital.

Toko Viva Al-Fazza dikenal dengan produk andalannya, Brownies Al-Fazza, yang hadir dalam berbagai varian rasa seperti tiramisu, oreo, original, dan bubble gum. Brownies ini tersedia dalam dua ukuran, yakni kemasan kecil seharga Rp3.500 dan kemasan besar Rp30.000. Produk dibuat dengan sistem pre-order untuk memastikan brownies selalu dalam kondisi fresh saat diterima konsumen.

Meski produknya digemari pelanggan sekitar, Riyanah mengaku kesulitan memasarkan secara digital sehingga jangkauan pasarnya masih terbatas. Menyadari urgensi adaptasi digital, mahasiswa KKN Kelompok 101 kemudian turun tangan memberikan solusi konkret bagi permasalahan pemasaran UMKM.

Menurut Pijar, salah satu anggota KKN Kelompok 101, program ini dirancang untuk membantu UMKM beradaptasi dengan teknologi pemasaran yang relevan dengan kebutuhan saat ini.

“Kami melihat potensi besar pada produk Brownies Al-Fazza, namun pemasarannya masih perlu dioptimalkan. Oleh karena itu, kami fokus pada pendampingan digital agar mereka bisa menjangkau pasar yang lebih luas,” jelas Pijar.

Pendampingan yang dilakukan meliputi sejumlah strategi digitalisasi terintegrasi untuk memperkuat identitas usaha sekaligus memperluas akses pemasaran. Langkah pertama adalah memperbaiki identitas visual produk dengan meredesain logo menjadi lebih modern serta membantu pemilihan label kemasan yang lebih menarik dan profesional.

Identitas visual yang konsisten penting karena menjadi kesan pertama bagi konsumen sebelum membeli. Logo yang jelas, warna yang tepat, dan kemasan yang rapi memberi nilai tambah sehingga produk tampak lebih kompetitif, baik saat dipajang di toko maupun saat dipromosikan melalui media sosial.

Strategi berikutnya adalah memanfaatkan platform komunikasi digital dengan membuat akun WhatsApp Business untuk toko. Platform ini mempermudah konsumen mengakses informasi, memesan produk, atau berkomunikasi langsung dengan penjual secara cepat dan praktis. Fitur balasan otomatis, katalog produk, hingga pesan sambutan untuk pelanggan baru turut dimanfaatkan untuk meningkatkan profesionalitas pelayanan.

Selain itu, mahasiswa Kelompok 101 juga menyusun katalog digital berisi foto-foto produk lengkap dengan deskripsi dan harga yang dapat dibagikan melalui WhatsApp maupun media sosial.

Katalog ini memudahkan konsumen melihat pilihan produk tanpa harus datang langsung ke toko. Penyusunan katalog yang rapi dengan foto dan informasi yang jelas juga memberikan kesan profesional serta membantu konsumen mengambil keputusan pembelian lebih cepat.

Sebagai pelengkap strategi komunikasi digital, Kelompok 101 juga memberikan pelatihan pemanfaatan media sosial untuk promosi. Dalam pelatihan ini, Riyanah diajarkan cara menyusun konten menarik, menulis deskripsi produk yang persuasif, menggunakan hashtag tepat, hingga menyusun jadwal unggahan Instagram agar promosi lebih teratur.

Upaya ini diperkuat dengan pelatihan teknik pengambilan foto produk secara sederhana namun efektif, seperti pengaturan pencahayaan, pemilihan latar, dan komposisi foto yang estetis. Foto yang menarik sangat penting untuk meningkatkan daya tarik visual di katalog maupun media sosial.

“Dengan adanya pendampingan ini, saya jadi lebih paham cara promosi lewat media sosial dan cara membuat foto produk yang bagus. Semoga penjualan bisa meningkat,” ujar Riyanah.

Kolaborasi antara dunia pendidikan dan pelaku UMKM lokal diharapkan dapat menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat dari tingkat akar rumput.

“Kami berharap strategi digitalisasi ini bisa membantu UMKM seperti Toko Viva Al-Fazza memperluas pasar, meningkatkan penjualan, dan beradaptasi dengan tuntutan zaman,” pungkas Pijar.

Penulis: Chintya Ihzabella

Editor: Bifanda Ariandhana, Tim BeritaKuliah.com