BERITAKULIAH.COM, SURAKARTA — Sebelum kita membahas lebih dalam lagi, apa sih sebenarnya Burnout itu?? Burnout adalah masalah yang semakin umum terjadi di kalangan mahasiswa akibat tekanan akademik, sosial, dan ekonomi yang terus meningkat. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi prestasi akademik, tetapi juga berdampak pada kesehatan mental dan fisik.
Oleh karena itu, penting bagi mahasiswa untuk menyadari tanda-tanda burnout dan menerapkan langkah-langkah pencegahan, seperti mengelola waktu dengan baik, menjaga kesehatan fisik dan mental, serta mencari dukungan sosial. Dengan menjalani pola hidup yang lebih seimbang, mahasiswa dapat menghadapi tantangan perkuliahan dengan lebih baik dan mencapai kesuksesan tanpa mengorbankan kesehatan mereka.
Dalam kehidupan perkuliahan, mahasiswa sering kali dihadapkan dengan berbagai tantangan akademik dan sosial yang menuntut mereka untuk terus berprestasi. Tekanan yang tinggi ini dapat memicu kondisi yang dikenal sebagai burnout, yaitu keadaan kelelahan fisik, mental, dan emosional akibat stres yang berkepanjangan.
Burnout bukan hanya membuat mahasiswa kehilangan motivasi, tetapi juga berdampak negatif pada kesehatan mental dan kesejahteraan mereka. Fenomena ini semakin umum terjadi di era modern, di mana ekspektasi akademik semakin tinggi, tuntutan sosial semakin besar, dan teknologi semakin meningkat. Mahasiswa sekarang kesulitan untuk membagi antara waktu belajar dan waktu istirahat.
Menurut Ramadhan et al. (2022), tingginya tuntutan di bidang akademik dapat mengakibatkan stress dan kelelahan akademik bagi individu yang tidak dapat menyesuaikan diri. Oleh karena itu, artikel ini saya buat untuk membahas penyebab burnout, dampaknya terhadap mahasiswa, serta berbagai cara untuk mencegah dan mengatasinya agar kehidupan di perkuliahan tetap seimbang dan produktif.
Burnout pada mahasiswa bisa disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya adalah beban akademik yang tinggi. Tugas yang menumpuk, jadwal kuliah yang padat, serta tekanan untuk mendapatkan nilai tinggi sering kali membuat mahasiswa merasa terbebani.
Selain itu, manajemen waktu yang buruk dan kebiasaan menunda pekerjaan juga menjadi pemicu utama. Banyak mahasiswa yang sulit mengatur waktu antara belajar, istirahat, dan kegiatan sosial, sehingga mereka sering kali kelelahan akibat tugas yang dikerjakan mendadak.
Tidak hanya faktor akademik, tuntutan sosial dan ekspektasi keluarga juga berperan dalam menyebabkan burnout. Mahasiswa sering kali merasa tertekan untuk memenuhi harapan orang tua dan lingkungan sekitar, baik dalam hal akademik maupun kehidupan pribadi. Tekanan ini semakin diperparah dengan adanya masalah ekonomi, di mana ada sebagian mahasiswa harus bekerja sambil kuliah untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Di era digital, pengaruh teknologi dan media sosial turut memperburuk kondisi ini. Alih-alih menjadi sarana hiburan, media sosial justru sering kali menjadi sumber stres karena mahasiswa cenderung membandingkan pencapaian mereka dengan orang lain.
Perasaan kurang percaya diri dan ketakutan tertinggal semakin menambah tekanan mental yang mereka rasakan. Selain itu, kurangnya waktu istirahat akibat kebiasaan begadang, baik untuk menyelesaikan tugas maupun sekadar menghabiskan waktu di media sosial, membuat kondisi burnout semakin sulit dihindari. Siklus ini terus berulang dan berujung pada kelelahan mental yang semakin berat, menghambat produktivitas serta kesejahteraan mahasiswa secara keseluruhan.
Mari kita simak video berikut mengenai tips menghadapi burnout:
Burnout tidak hanya menghambat produktivitas akademik, tetapi juga berdampak serius pada kesehatan mental dan fisik mahasiswa. Salah satu dampak yang paling nyata adalah penurunan konsentrasi dan motivasi belajar, yang pada akhirnya bisa menyebabkan penurunan prestasi akademik. Ketika mahasiswa kehilangan semangat untuk belajar, mereka cenderung mengabaikan tugas dan merasa semakin tertekan dengan kewajiban akademik mereka.
Secara mental, burnout dapat memicu gangguan kesehatan mental seperti stres, kecemasan (anxiety), dan depresi. Mahasiswa yang mengalami burnout sering kali merasa putus asa, mudah marah, dan kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya mereka nikmati. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat berkembang menjadi gangguan mental yang lebih serius.
Dampak fisik juga tidak bisa diabaikan. Burnout sering kali menyebabkan kelelahan kronis, sakit kepala, hingga insomnia. Kurangnya istirahat dan stres yang berlebihan dapat melemahkan sistem imun, membuat mahasiswa lebih rentan terhadap berbagai penyakit. Selain itu, burnout juga dapat menyebabkan menurunnya minat terhadap interaksi sosial, sehingga mahasiswa cenderung menarik diri dari teman, keluarga, dan lingkungan sekitar.
Mengelola burnout bukanlah hal yang mudah, tetapi ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mencegah dan mengatasinya. Salah satu cara utama adalah dengan manajemen waktu yang baik. Mahasiswa perlu membuat jadwal yang terstruktur dan menetapkan prioritas agar tidak kewalahan dengan tugas akademik. Membagi waktu antara belajar, istirahat, dan hiburan akan membantu menjaga keseimbangan hidup.
Selain itu, istirahat yang cukup dan menjaga pola makan sehat juga sangat penting. Tidur yang cukup membantu tubuh dan otak beristirahat, sementara asupan makanan yang sehat dapat meningkatkan energi dan fokus dalam belajar. Mengabaikan kebutuhan dasar ini hanya akan memperburuk kondisi burnout.
Mahasiswa juga perlu mengelola stres dengan menyalurkan energi ke hal-hal positif, seperti berolahraga, bermeditasi, atau menjalankan hobi. Aktivitas ini dapat membantu mengurangi tekanan mental dan memberikan perasaan lebih tenang. Menghindari konsumsi berlebihan terhadap media sosial juga bisa menjadi langkah efektif untuk mengurangi tekanan dari ekspektasi sosial yang tidak realistis.
Dukungan sosial juga memiliki peran besar dalam mengatasi burnout. Mahasiswa sebaiknya tidak ragu untuk mencari support system, baik dari teman, pasangan, sahabat, maupun keluarga. Berbagi cerita dan mendapatkan dukungan emosional dari orang-orang terdekat dapat membantu mengurangi stres dan memberikan perspektif yang lebih baik dalam menghadapi tekanan akademik.
Referensi
- Ramadhan, M. R., Rizal, G. L., & Fikry, Z. 2022. Tingkat burnout akademik pada mahasiswa jurusan psikologi universitas Negeri Padang. AT-TADIB, 6(2), 255-264.
Penulis: Sukma Ari Nugroho, Mahasiswa Universitas Sebelas Maret, Jurusan Ilmu Tanah













