BERITAKULIAH.COM, Semarang — Pada hari Rabu 4 Februari 2026 bertempat di Balai RW 10 Desa Siroto Kelurahan Gunungpati telah dilaksanakan kegiatan praktik pembuatan Kompos Kulit Durian Melalui Biopori dari Limbah Organik kulit durian yang diikuti oleh peserta dari kalangan bapak – bapak Ketua, Pengurus dan anggota KT Subur Makmur serta perangkat Desa Siroto RW 10 Kelurahan Gunungpati Kota Semarang.
Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada peserta dalam memanfaatkan limbah sampah organik seperti kulit durian yang dapat diolah dengan dengan cara menambahkan larutan EM – 4 dan molases atau tetes tebu yang ramah Lingkungan serta pembuatan biopori dengan bahan sederhana. Kegiatan diawali dengan penjelasan materi mengenai manfaat pembuatan kompos kulit durian dan pembuatan biopori serta tahapan proses pembuatannya. Selanjutnya, memperlihatkan bahan-bahan dan produk yang telah diolah dan difermentasi selama 1 bulanan.
Materi yang disampaikan mahasiswa KKN Tematik Imam Rizky Akbar mengenai pemanfaatan sampah limbah organik sebagai kompos alami yang dapat digunakan untuk tanaman, pemanfaatan sampah limbah organik yang berupa kulit durian dengan tambahan larutan EM – 4 (EM – 4 dan Molases) sebagai fermentor yang membantu fermentasi pada kulit durian.

Selain itu, tata cara pembuatan biopori dengan menggali lubang dengan kedalaman 50 cm dan jarak 100cm. Tujuan dari pembuatan kompos kulit durian melalui biopori untuk mengurangi limbah sampah organik (Kulit Durian) sebagai nutrisi tambahan pada tanaman, serta pembuatan biopori sebagai resapan air yang menggenang pada tanah. Pembuatan kompos kulit durian dapat dikatakan berhasil jika memiliki bau asam segar seperti tanah (wangi), warna yang cendrung coklat tua, dan teksur yang lapuk atau mudah hancur.
Hal ini ditambahkan oleh Lilik Krismiyanto, S.Pt., M.Si. bahwa pembuatan kompos biopori dilakukan dengan memanfaatkan lubang resapan di tanah yang diisi limbah organik seperti daun kering, sisa sayuran, dan kulit buah. Limbah tersebut akan terurai secara alami dengan bantuan mikroorganisme tanah sehingga menghasilkan kompos yang memperbaiki kesuburan tanah sekaligus meningkatkan daya serap air dan mengurangi genangan.
Sementara itu, probiotik herbal dibuat melalui proses fermentasi bahan tanaman berkhasiat seperti jahe, kunyit, dan temulawak menggunakan sumber gula dan mikroorganisme fermentatif. Probiotik herbal ini berfungsi mempercepat dekomposisi bahan organik pada kompos biopori, menekan mikroba patogen, serta meningkatkan kualitas kompos dan kesehatan lingkungan secara berkelanjutan.
Peserta tampak antusias mengikuti kegiatan ini dan aktif bertanya selama proses praktik berlangsung. Diharapkan melalui kegiatan ini, peserta dapat menerapkan pembuatan kompos kulit durian melalui biopori secara mandiri untuk mendukung pertanian berkelanjutan dan mengurangi limbah sampah organik di lingkungan sekitar.
Kegiatan yang dilakukan oleh KKN Tematik 1 TIM 15 UNDIP 2026 dilaksanakan untuk mendorong masyarakat yang produktif dan mandiri dalam meningkatkan ketahan pangan.













