BERITAKULIAH.COM, Malang — Terlihat dalam lima tahun terakhir, Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami perubahan demografi dari ruang eksklusif para profesional menjadi arena finansial yang ramai dengan wajah-wajah muda. Laporan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) tahun 2025 mencatat adanya perkembangan positif pada jumlah investor di Indonesia. Pada tahun 2024 dijumpai adanya lonjakan investor saham, dari yang sebelumnya berjumlah 5,2 juta di tahun 2023, menjadi 6,3 juta investor di tahun 2024. Mayoritas penambahan investor baru didominasi oleh Generasi Z (KSEI, 2025).
Generasi Z dikenal dengan kemampuan teknologi yang sangat baik. Generasi Z bertransformasi di tengah pesatnya teknologi yang memiliki akses penuh terhadap internet dan sosial media. Generasi Z lahir pada tahun 1995 hingga 2010. Berdasarkan jangka usia tersebut, generasi Z sekarang sebagian besar berstatus sebagai pelajar dan mahasiswa (Fuad et al., 2022). Laporan bulan Mei tahun 2025, Badan Pusat Statistik Indonesia (BPS) telah mendata jumlah penduduk Indonesia yang berusia sekitar 15-30 tahun yang merupakan kategori Generasi Z adalah sekitar 66,770 juta jiwa (BPS, 2025).
Kuantitas serta status Generasi Z sekarang sedang memasuki masa produktif dan mengingat kemahiran dalam beradaptasi di tengah pesatnya teknologi digital, Generasi Z memiliki potensi besar dalam menempati posisi strategis sebagai harapan perekonomian bangsa. Salah satu komponen penting dalam memajukan perekonomian bangsa merupakan partisipasi aktif masyarakat sebagai investor. Saham merupakan jenis investasi paling fleksibel yang mudah untuk dijangkau oleh Generasi Z, di mana mereka hanya memerlukan gawai pintar, legalitas identitas, dan modal awal yang kecil, (Aristi et al., 2023). Hal tersebut menjadi selaras, mengingat Generasi Z merupakan generasi yang tidak suka hal-hal yang rumit (Fuad et al., 2022).
Kehadiran Generasi Z dalam dunia investasi saham sebagai sebuah peluang transformatif yang berpotensi mendemokratisasi, mendinamisasi, dan mengonsolidasikan pasar modal Indonesia di masa depan. Pembahasan akan dilakukan melalui tiga pembagian, yakni:
1. Proyeksi masa depan Generasi Z dalam investasi saham
2. Tantangan keberlanjutan dan risiko dalam investasi pasar modal saham
3. Upaya Generasi Z mendominasi arena investasi modern pasar saham.
Proyeksi Masa Depan Generasi Z dalam Investasi Saham
Generasi Z terbiasa mengaitkan setiap aktivitasnya dengan dunia digital. Kemajuan teknologi juga memungkinkan Generasi Z untuk melakukan berbagai kegiatan sekaligus (multitasking) dengan lebih mudah dibandingkan generasi sebelumnya (Arum, 2023). Hal tersebut menunjukkan bahwa Generasi Z merupakan generasi yang melek digital. Bagi Generasi Z, hampir semua aktivitas terhubung dengan internet. Berkat teknologi, kemampuan Generasi Z dalam mengerjakan banyak hal secara bersamaan juga melebihi generasi pendahulunya yaitu Generasi Milenial.
Kemajuan teknologi telah memberikan dampak positif dalam dunia investasi dengan meningkatkan aksesibilitas, efektivitas, dan efisiensi. Kehadiran media investasi digital dan aplikasi trading online memudahkan pemula untuk mengawali investasi, melakukan transaksi secara online, serta mengawasi portofolio saham kapan pun dan di mana pun. teknologi juga berperan menurunkan hambatan masuk dengan persyaratan setoran awal yang lebih rendah, langkah ini memperluas kesempatan bagi masyarakat untuk mengakses berbagai pilihan investasi. Kemudahan akses terhadap informasi pasar, berita terkini, serta beragam alat analisis turut berkontribusi pada pengambilan keputusan investasi yang lebih cermat dan terinformasi (Damayanti & Ananda Puspa, 2025)
Data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mengungkapkan bahwa mayoritas investor pemegang saham di Indonesia, yakni 54,20%, berusia 30 tahun ke bawah dengan total investasi Rp.51,82 triliun. Hal tersebut menunjukkan dominasi Generasi Z terhadap arena pasar modal saham yang semakin canggih didukung oleh teknologi yang semakin berkembang. Dominasi usia muda mencerminkan tingginya adopsi teknologi finansial dan literasi keuangan digital di kalangan generasi milenial dan Generasi Z, yang dapat menjadi pendorong utama pertumbuhan pasar modal Indonesia ke depan (KSEI, 2025).
Tantangan Keberlanjutan dan Risiko dalam Investasi
Meski menjadi bagian dari agenda program nasional, upaya mewujudkan inklusi keuangan dan meningkatkan jumlah investor ritel domestik masih menghadapi tantangan serius yang bersifat struktural. Akar permasalahannya terletak pada tiga faktor utama: pertama, rendahnya tingkat literasi keuangan masyarakat membatasi pemahaman terhadap produk dan risiko investasi; kedua, kurangnya akses terhadap pendidikan investasi praktis dan terstruktur; serta ketiga, stigma yang melekat bahwa pasar modal merupakan ranah eksklusif bagi kalangan tertentu atau investor besar, Menurut Putri et al., (2025) kondisi ini menunjukkan bahwa meski komitmen politik telah ada, implementasinya masih memerlukan pendekatan yang lebih konkret, sistematis, dan terukur untuk secara langsung mengatasi hambatan psikologis dan kognitif tersebut. Tanpa intervensi menyeluruh mulai dari kurikulum edukasi sejak dini, kampanye publik yang menjangkau berbagai lapisan masyarakat, hingga penyederhanaan akses investasi gap partisipasi dalam pasar modal akan tetap lebar, dan potensi pasar keuangan Indonesia untuk menjadi motor inklusi ekonomi pun belum dapat dioptimalkan.
Literasi keuangan merujuk pada kompetensi seseorang dalam menerapkan prinsip pengelolaan keuangan, mengumpulkan serta menganalisis informasi guna menentukan keputusan, dan mempertimbangkan dampak yang mungkin timbul. Kemampuan ini memungkinkan individu memahami berbagai aspek dan potensi risiko keuangan, sehingga dapat menghindari kesulitan keuangan. Mahasiswa dengan kesadaran keuangan yang baik dapat mengatur keuangannya secara lebih optimal, tepat guna, dan hemat, mencegah kebiasaan belanja tidak perlu. Pada tingkat literasi keuangan yang lebih maju, mahasiswa akan memahami instrumen investasi dan produk asuransi (Ariska & Jumawan, 2023).
Hambatan utama yang dihadapi mencakup rendahnya pemahaman keuangan masyarakat, kerentanan terhadap ancaman siber, serta kerangka regulasi yang belum sepenuhnya mendukung terobosan teknologi (Rohyati, 2024). Keamanan siber menjadi momok menakutkan bagi investor saham. Terutama dengan pesatnya teknologi yang semakin canggih menjadi habatan bagi keamanan penyedia layanan arena jual beli saham.
Ketakutan akan kebocoran data pribadi atau pencurian aset digital dapat secara signifikan menggerus kepercayaan publik. Rendahnya kepercayaan ini berpotensi menghambat partisipasi masyarakat, terutama investor pemula, untuk terlibat dalam pasar modal. Keraguan ini sering kali diperparah oleh rendahnya literasi keuangan, yang membuat masyarakat kesulitan membedakan antara platform investasi yang sah dan skema penipuan yang mengatasnamakan investasi digital (Rohyati, 2024)
Digitalisasi juga menghadirkan hambatan yang signifikan. Risiko keamanan siber telah menjadi prioritas dalam konteks era digital, mengingat potensi gangguan Cyber Security dapat mempengaruhi stabilitas operasional pasar modal dan menimbulkan kerugian material bagi investor. Perubahan teknologi yang berlangsung secara cepat seringkali mengakibatkan regulasi yang berlaku menjadi tidak sesuai, sehingga memicu ketetapan hukum dapat penghambat bagi inovasi dan pertumbuhan industri terutama industri yang akan berinvestasi di Indonesia. Kesenjangan literasi digital di antara para investor juga menciptakan masalah kesetaraan akses. Investor dengan pemahaman teknologi terbatas berisiko berada pada posisi yang kurang menguntungkan dan lebih rentan mengalami kerugian (Rinjani & M. Eaddy Darussalam, 2024)
Tantangan tidak hanya datang dari digitalisasi, globalisasi dan integrasi ekonomi membuat pasar modal sangat bergantung pada kondisi ekonomi, baik lokal, regional, maupun global. Untuk menganalisis pertumbuhan pasar modal, indikator makroekonomi. Pemahaman atas indikator-indikator ini sangat penting, termasuk untuk memperkirakan pergerakan di pasar derivatif, karena dapat mengungkap laju pertumbuhan pasar modal yang sebenarnya (Rorizki et al., 2022). Indikator makro ekonomi menjadi sangat berpengaruh bagi calon investor pasar modal saham, terutama investor yang menggunakan analisis fundamental, dalam analisis fundamental para investor harus mengetahui keadaan geopolitik suatu negara, jumlah penduduk, tingkat konsumsi masyarakat dan lain sebagainya. Hal tersebut sangat memengaruhi naik turunnya suatu saham dalam arena pasar modal saham.
Upaya Generasi Z Mendominasi Arena Investasi Pasar Modal Saham
Adanya Program Pemberdayaan Masyarakat (PkM) memiliki tujuan khusus: mengajak dan memotivasi kelompok sasaran agar mulai berinvestasi secara legal di instrumen yang terdaftar pada Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Tujuannya tidak hanya bersifat jangka pendek, melainkan untuk membangun kemandirian finansial yang berkelanjutan di masa depan, serta secara proaktif melindungi aset dan daya beli mereka dari dampak signifikan inflasi yang akan datang (Fathia, Syaharani Noer, 2025). Melalui pendekatan edukasi yang partisipatif, program ini bertransformasi dari sekadar penyampaian informasi menjadi upaya membangun pola pikir dan kemampuan praktis dalam perencanaan keuangan. Dengan demikian, diharapkan masyarakat tidak hanya menjadi pelaku pasif, tetapi mampu mengambil keputusan investasi yang cerdas dan aman, yang pada akhirnya berkontribusi pada penguatan ketahanan ekonomi keluarga dan peningkatan inklusi keuangan nasional.
Motivasi merupakan kekuatan internal yang menggerakkan individu untuk bertindak mencapai tujuan tertentu, yang terwujud dalam perilaku yang diarahkan pada pencapaian kepuasan. Karena sifatnya yang abstrak dan subjektif, motivasi tidak dapat diukur secara langsung, tetapi hanya dapat disimpulkan dan dianalisis dari pola perilaku yang teramati. Dengan demikian, motivasi investasi merupakan dorongan psikologis yang melatarbelakangi tindakan seseorang dalam berinvestasi (Mujtahidin, 2023). Dorongan ini dapat terwujud dalam beragam bentuk, seperti keinginan untuk mengamankan masa depan finansial motivasi keamanan, memperoleh keuntungan besar motivasi profit, atau bahkan kepuasan psikologis dari proses belajar dan menguasai pasar .motivasi pencapaian.
Motivasi tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh faktor rasional seperti analisis fundamental, tetapi juga oleh faktor emosional, tren sosial Fear of Missing Out (FOMO), dan kondisi lingkungan ekonomi. Memahami kompleksitas motivasi investasi menjadi krusial bagi lembaga keuangan, karena hal ini memungkinkan mereka merancang produk, komunikasi, dan pengalaman investasi yang sesuai dengan kebutuhan psikologis dan tujuan setiap calon investor. Berbagai penelitian secara konsisten mengungkap bahwa ekspektasi return atau imbal hasil berperan baik dan signifikan dalam meningkatkan Minat Generasi Z dalam melakukan investasi di pasar modal, khususnya instrumen saham.
Temuan Wesley menunjukkan pengaruh parsial return terhadap keinginan investasi pasar modal saham, selaras dengan hasil studi Alek dan kawan-kawan yang menegaskan dampak positif return terhadap minat berinvestasi mahasiswa, bahwa besarnya tingkat pengembalian yang diharapkan menjadi faktor pendorong utama mahasiswa dalam memanfaatkan platform digital untuk berinvestasi. Secara kolektif, temuan tersebut mengindikasikan bahwa mahasiswa cenderung memiliki pendekatan rasional-instrumental terhadap investasi, di mana potensi keuntungan berfungsi sebagai motivator kunci yang mengatasi keraguan dan mendorong eksplorasi awal mereka ke dalam pasar modal (Ainurum, 2025).
Berdasarkan pembahasan yang telah dipaparkan, disimpulkan bahwa Generasi Z memiliki peluang signifikan untuk mendominasi dan mentransformasi arena investasi pasar saham modern di Indonesia. Kemampuan adaptasi teknologi yang tinggi, akses mudah terhadap platform investasi digital, serta jumlah populasi yang besar dan memasuki usia produktif menjadikan Generasi Z sebagai kekuatan strategis bagi pertumbuhan pasar modal.
Realisasi potensi tersebut tidak lepas dari sejumlah tantangan, seperti rendahnya literasi keuangan, kerentanan terhadap risiko Cyber Security, kerangka regulasi yang belum sepenuhnya adaptif, serta disparitas pemahaman digital di antara investor. Solusinya adalah kolaborasi dari seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, penyedia layanan investasi, dan institusi pendidikan untuk memperkuat edukasi keuangan, meningkatkan keamanan digital, dan menciptakan ekosistem investasi yang inklusif dan berkelanjutan.
Generasi Z sendiri dapat memanfaatkan motivasi internal seperti harapan return yang menarik dan kemudahan akses melalui media sosial serta aplikasi investasi untuk mulai berinvestasi secara legal dan bertanggung jawab. Dengan demikian, partisipasi aktif Generasi Z tidak hanya akan membangun kemandirian finansial individu, tetapi juga berkontribusi pada pendalaman, dinamika, dan konsolidasi pasar modal Indonesia di masa depan.

Penulis: Satria Husada
Mahasiswa S1 Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muhammadiah Malang













