BERITAKULIAH.COM, KARANGANYAR — Telaga madirda merupakan salah satu objek wisata yang terletak di Dusun Tlogo, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Telaga Madirda adalah sebuah Telaga Alami yang tenang dan memesona.
Memiliki air yang jernih, udaranya yang sejuk, dan suasana damai yang dikelilingi oleh kaki gunung Lawu menjadikan Telaga Madirda menjadi salah satu objek wisata yang gemar didatangi oleh pengunjung lokal maupun domestik.
namun, siapa sangka dibalik semua keindahan di dalam Telaga Madirda yang memikat pandangan mata dan hati, telaga ini menyimpan berbagai macam fenomena fisika yang menarik dan bisa menjadi sarana edukasi bagi para pengunjung yang datang!
Penasaran apa saja fenomena fisika yang ada di Telaga Madirda? Simak penjelasan di bawah ini!
Pembiasan Cahaya
Coba deh perhatikan tiang yang sebagian terendam di dalam air Telaga Madirda. Mengapa tiangnya kelihatan bengkok, ya? Padahal sebenarnya tiang itu lurus, lho! Apa yang sebenarnya terjadi?
Itu bukan karena tiangnya rusak,atau melengkung, kok! Hal itu terjadi karena cahaya punya cara kerja yang unik. Saat cahaya dari dalam air masuk ke udara, arahnya berubah. Perubahan arah ini dalam ilmu sains disebut pembiasan Cahaya (Zamroni, 2013).
Kenapa Cahaya bisa berubah arah?
Karena air dan udara punya kepadatan berbeda, jadi cahaya dibelokkan saat berpindah dari satu ke yang lain (Kunlestiowati dkk., 2016). Karena itu, benda di dalam air bisa terlihat patah atau miring, padahal tidak.
Fenomena ini sudah dijelaskan oleh Willebrord Snellius pada tahun 1626.
Ia menemukan bahwa cahaya yang berpindah medium akan membentuk sudut tertentu, dan semua sinar baik datang maupun bias berada dalam satu bidang.
Penemuan ini dikenal sebagai Hukum Snellius yang berbunyi “Sinar datang, garis normal, dan sinar bias selalu berada pada satu bidang datar yang sama.” Artinya, arah pembelokan cahaya bisa diprediksi secara ilmiah, dan hal inilah yang membuat benda di dalam air terlihat tidak seperti aslinya.
Contoh mudahnya adalah ketika kita memasukkan pensil ke dalam gelas berisi air. Dari samping, pensilnya akan terlihat patah atau miring, kan? itu karena mata kita tertipu oleh arah cahaya yang berubah
Jadi, tiang yang terlihat bengkok itu sebenarnya adalah trik cahaya yang membelokkan pandangan kita. Keren, kan? alam juga bisa ngajarin sains dengan cara yang seru.
Gelombang Melingkar
Pernahkah kamu melempar batu kecil ke dalam air yang tenang, seperti di Telaga Madirda? Kalau iya, pasti muncul gelombang-gelombang air berbentuk lingkaran yang menyebar ke segala arah. Gelombang ini disebut dengan gelombang melingkar. karena dorongan dari batu menyebar dari satu titik ke seluruh permukaan air (Rosyidah dkk., 2023).

Fenomena ini merupakan contoh nyata dari gelombang permukaan, di mana energi dari batu tadi merambat melalui air tanpa memindahkan airnya secara keseluruhan. Jadi, meskipun daun yang mengapung di atas air ikut naik turun karena gelombang, daunnya tetap berada di tempat. Artinya, yang bergerak bukan airnya, tapi energinya.
Gelombang melingkar ini juga termasuk gelombang mekanik, karena ia butuh medium dalam hal ini air untuk bisa merambat (Susanto, 2022). Fenomena ini sangat umum, dan bisa kita lihat tak hanya di telaga, tapi juga di sungai, laut, atau bahkan genangan air hujan (Rahayu dkk., 2009).
Jadi, setiap kali kamu melihat gelombang melingkar di permukaan air, itu adalah bukti bahwa energi bisa bergerak melalui air, menciptakan pola-pola indah yang mengajarkan kita tentang cara kerja alam.
Melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Berjo, kami berupaya mengenalkan kepada masyarakat umum sisi ilmiah yang tersembunyi di balik keindahan Telaga Madirda. Kami ingin membuktikan bahwa fisika bukan hanya bisa dipelajari di dalam kelas, tetapi juga dapat dikenali langsung di alam terbuka dengan cara yang menyenangkan dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Kami meyakini bahwa kekayaan alam seperti Telaga Madirda tidak hanya layak dinikmati karena panoramanya, tetapi juga penting untuk dipahami dari segi ilmunya. Dengan pendekatan ini, kami berharap generasi muda semakin mencintai lingkungan sekitar sekaligus tumbuh dengan rasa ingin tahu yang tinggi terhadap dunia sains.
Penulis :
Olivia Izaura, Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro
Isna Alvi Rizkiya, Program Studi Fisika, Fakultas Sains dan Matematika, Universitas Diponegoro













